25 April 2024

`

1.144 Ternak Terpapar PMK, Pemkab Sidoarjo Gandeng Perguruan Tinggi

3 min read

SIDOARJO, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Dampak penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, hingga Jumat (20/05/2022) cukup banyak. Total yang terpapar PMK 1.144 ekor. Terdiri dari 673 ekor sakit, 22 ekor mati,  41 ekor dipotong paksa, 4 ekor dijual, dan 404 ekor sembuh.

 

Tim perguruan tinggi menyemprotkan cairan ke tubuh sapi agar tak terpapar PMK di Sidoarjo, Jawa Timur.

 

Tim perguruan tinggi menyuntikan obat ke tubuh sapi untuk mencegah terpapar PMK di Sidoarjo, Jawa Timur.

UNTUK mengatasinya, Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Sidoarjo, menggandeng sejumlah perguruan tinggi untuk  mengatasinya. Di antaranya, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH Unair), Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) Sidoarjo, FKH Universitas Brawijaya, ratusan tenaga medis, non-medis, serta mahasiswa kedua perguruan tinggi ini dilibatkan dalam program serbuan penanggulangan PMK, di 16 kecamatan (41 desa) se-Sidoarjo, Jumat (20/05/2022).

Sebelum masuk ke kandang sapi, petugas harus menggunakan alat pelindung diri agar sapi tak terpapar PMK.

Kepala Bidang Produksi Peternakan, Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo, Tony Hartono,  mengatakan, pihaknya memang melibatkan berbagai pihak agar PMK bisa segera tertangani. “Diharapkan bisa membantu para peternak yang saat ini merasakan dampak PMK ini,” kata alumnus FKH Unair ini.

Dari 41 desa yang didatangi Tim Penanggulangan PMK ini,  salah satunya Desa Tropodo, Kecamatan Krian. Di Krian sendiri ada 3 desa yang dilakukan penanggulangan PMK, yakni  Desa Tropodo, Junwangi, dan Katerungan. Di Desa Tropodo ada 15 lokasi peternakan yang disasar.

Para peternak mendapat penjelasan dari tim perguruan tinggi yang digandeng Dinas Pertanian dan Peternakan Sidoarjo untuk mengatasi PMK.

Nurotin, salah satu peternak di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, mengungkapkan, sapi-sapinya terserang PMK saat Hari Raya Idul Fitri lalu. Ternaknya yang mati 4 ekor pedet, potong paksa 12 ekor, dan yang sembuh 15 ekor. “Saya berharap sapi-sapi yang sakit segera sembuh, karena sangat berpengaruh pada pendapatan kami,” kata pemilik 60 ternak ini.

Sementara itu, Ketua Tim Khusus PMK FKH Unair, Prof. Dr. drh. Fedik Abdul Rantam,  mengatakan, perlu perbaikan lingkungan kandang ternak, yaitu sanitasi tiap pagi dan sore. “Makanan dan minuman ternak jangan dicampur antara yang sakit dan sehat,” katanya di hadapan para peternak di  Tropodo.

Selain itu, peternak juga harus ganti pakaian dan disanitasi usai mengunjungi kandang. Aliran kotoran, katanya, sebaiknya ditampung dan diberi kaporit. Hal ini akan mengurangi virus. “Virus ini tidak akan menularkan ke manusia, tapi peternak tetap harus hati-hati menangani sapi. Salah satunya dengan cuci tangan usai mengurusi ternaknya,” jelasnya.

Sedangkan Dekan FKH Unair,  Prof. Dr. MP. Drh. Mirni Lamid,  mengatakan, pihaknya siap membantu peternak untuk menangani hewan-hewan yang sakit. Perawatan rutin terhadap hewan yang sakit merupakan salah satu kuncinya. “Sekarang yang penting bagaimana action penanganan di lapangan,” ungkapnya.

Dia juga memberikan masukan kepada para peternak yang punya pinjaman di bank untuk pembelian ternaknya. Ia berharap kepada pemerintah dan sektor perbankan untuk memberikan relaksasi pinjaman. Pasalnya, para peternak yang terdampak PMK ini mengalami pengurangan pemasukan.

“Tidak ada yang bisa memprediksikan kapan PMK ini akan berakhir. Ini penyakit yang datang tiba-tiba. Tidak ada satu pun yang ahli yang bisa menjawabnya. Ini virus yang nggak ada obatnya, seperti Covid-19,” jelasnya kepada para peternak.

Sedangkan Ketua Bidang Kemitraan dan Kemandirian IKA Unair Sidoarjo,  Rizki Daniarto,  mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat. Pihaknya terus mendukung kegiatan seperti ini. “Apalagi PMK kini tengah mengemuka di masyarakat. Beberapa daerah di Jawa Timur terjangkit PMK,” jelasnya. (iko/mat)