TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Teguh Yudho Prakoso, leader Omah Luwak sekaligus barista.

Warung Kopi Omah Luwak

Tidak Harus Mahal, Tembus Semua Kelas

Teguh Yudho Prakoso, leader Omah Luwak sekaligus barista.

Berawal dari hoby ngopi, kumpul bareng, lalu munculah gagasan untuk membuat usaha sendiri di bidang kopi. Sekarang, gagasan itu sudah terwujud. Namanya Omah Luwak. Lokasinya di Jl. Kedawung 43, Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Harganya tak mahal, hanya Rp 6.000 hingga Rp 16.000 per cangkir. Karena mereka punya pendapat, kopi enak tidak harus mahal.

 

Yang menarik, “warung kopi” ini dikelola oleh anak-anak muda yang punya latar belakang berbeda namun punya semangat yang sama.

Teguh Yudho Prakoso, leader Omah Luwak misalnya. Saat ini bekerja sebagai staf di Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Malang. “Kalau pagi kerja di sini (Bagian Humas dan Protokol). Kalau malam di warung kopi,” katanya.

Bocah asli Kabupaten Nganjuk ini menjelaskan, usaha warung kopi ini seja-tinya baru enam bulan berdiri. “Pertama kali buka Novembver 2016 di Jl. Ikan Tombro (sebelah SM Futsal), Lowok-waru, Kota Malang. Tak lama kami di sini. Karena kami ingin lebih berkembang, lalu pindah ke Jl. Kedawung 43, Lowok-waru, Kota Malang hingga sekarang. Tempat ini lebih strategis,” katanya, Ju-mat (3/2) siang di kantornya, Kepanjen.

Menurut Teguh, awal mula berdirinya Omah Luwak sebetulnya sangat sederhana. Hanya karena anak-anak muda suka nongkrong, suka ngopi bareng, lalu munculah gagasan untuk membuat usaha sendiri. “Kebetulan kami satu almamater, alumni Politeknik Negeri Malang (Polinema) jurusan Elektro. Hanya saja berbeda angkatan, cuma satu jurusan. Nah, berangkat dari sama-sama suka ngopi, kebetulan juga satu jurusan, akhirnya kami sepakat mendirikan usaha ini,” terangnya.

Menurut catatannya, anak-anak yang terlibat dalam Omah Luwak cukup banyak. “Ada 20 orang. Semuanya alumni Polinema jurusan Elektro. Tapi yang terlibat langsung dalam pengelolaan Omah Luwak, hanya 2 orang, saya dan teman, Iman Tri Nugroho. Artinya, saya yang terjun langsung mengurusi manajemen, penyajian (sebagai barista, red), pemesan biji kopi dan sebagainya. Sedangkan teman-teman yang lain cukup menerima laporan,” terangnya.
Menariknya, sistem kerja sema-cam ini cukup diminati. Buktinya, bila awalnya Omah Luwak hanya diurusi 2 orang, Teguh dan Iman Tri Nugroho. Sekarang sudah berkembang menjadi 20 orang. Ini belum ditambah 4 orang karyawan, di mana salah satu karyawannya adalah Teguh sendiri. “Ya, saya juga merangkap sebagai karyawan. Jadi, saya ikut bekerja di Omah Luwak ini,” tegasnya.

Secara perlahan, warung kopi yang dikelola anak-anak muda ini pun berkembang meski belum signifikan. Dalam kondisi normal, omsetnya sekitar Rp 400 ribu sehari. Saat ada acara nonton bareng sepak bola, bisa tembus Rp 1 juta lebih sehari.

Menurut Teguh, menu andalannya adalah kopi nusantara. “Kami punya 40 item kopi nusantara, mulai Sabang sampai Merauke. Mulai kopi Aceh sampai kopi Papua yang singel original. Artinya, asli kopi lokal yang tidak ada campuran dari daerah lain. Kopi singel original ini sekarang sedang booming,” terangnya.

Teguh mencontohkan kopi Aceh Gayo, kopi Paupa Wamena, kopi Bali Kintamani, dan kopi lokal Kabupaten Malang, yakni kopi Dampit dan kopi Carlos (Karangploso). Ini adalah kopi-kopi asli yang tidak ada campurannya.
Tapi, Omah Luwak juga menye-diakan kopi campuran susu, vanila dan sebagainya. Ini disediakan untuk penyuka kopi yang tidak suka dengan kopi hitam. “Biasanya cewek-cewek. Tapi jangan salah lo. Sekarang banyak juga cewek yang suka kopi hitam, kopi yang original,” tegasnya.

Mengenai harga, Teguh tidak mematok terlalu tinggi, hanya Rp 6.000 hingga Rp 16.000 per gelas. “Harga yang kami patok memang tidak tinggi, karena segmentasi kami adalah menengah ke bawah. Meski harganya tidak mahal, tapi cita rasa kopi tetap berkualitas. Kami punya pendapat bahwa kopi enak itu tidak harus mahal,” katanya.*