Tim Doktor Mengabdi UB Hibahkan Instalasi Pengolahan Air Minum

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Universitas Brawijaya (UB) melalui Tim Doktor Mengabdi (DM),  melaksanakan pengabdian masyarakat di Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Uluum, Desa Tuliskriyo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Jawa Timur,  Senin (07/09/ 2020).

 

Tim Doktor UB bersama pengasuh pesantren menunjukkan instalasi pengolahan air minum.

 

TIM yang terdiri dari  Zainul Abidin, ST., MT., M.Eng., Ph.D. (Ketua Tim/Fakultas Teknik), Eka Maulana, ST., MT., M.Eng. (anggota/Fakultas Teknik), dan Prof. Dr. Warsito, MS (anggota/FMIPA), menyediakan instalasi pengolahan air minum Reverse Osmosis (RO) beserta pelatihan operasional dan perawatan untuk warga di pondok pesantren tersebut.

Dua mahasiswa Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari Fakultas Teknik Elektro UB juga terlibat dalam integrasi alat pengolahan air minum tersebut dengan digital monitoring.

Menurut Zainul, pondok pesantren ini menampung lebih dari 500 santri, terdiri dari pelajar SMP 170 orang, SMA 260 orang, madrasah diniyah dan madrasah tahfidz Al-Qur’an sebanyak 120 orang. “Dengan jumlah santri yang besar,  kebutuhan akan air minum sangat tinggi,” ujar Zainul Ph.D, Selasa (08/09/2020) siang.

Namun dengan biaya mondok yang cukup rendah, pengasuh pondok pesantren, Kyai Deskof Zakaria menyampaikan keinginannya untuk bisa menekan biasa operasional pondok dengan memiliki alat pengolah air minum sendiri untuk kebutuhan warga pondok.

Dalam perkembangannya, pengasuh pondok dan beberapa warga pondok menyampaikan harapannya agar air minum sehat berbasis RO dan bio-energy ini bisa dikomersilkan untuk mendukung  ekonomi pondok pesantren.

“Salah satu masalah yang dihadapi mitra adalah banyaknya santri yang proporsional dengan tingginya kebutuhan air minum. Kesehatan para penghafal Al Quran ini menjadi spirit tersendiri bagi saya dan Tim DM untuk memberikan solusi masalah ini, yakni dengan menghibahkan, memberikan pelatihan operasional, dan perawatan alat pengolah air minum RO dengan bahan baku air sumur,” beber Zainul PhD.

Untuk merealisasikan alat pengolah air minum ini, Tim DM bekerjasama dengan tenaga ahli yang sudah bertahun-tahun menekuni bidang instalasi air minum. Tim ingin memastikan teknologi yang digunakan aman dan dapat mendukung kesehatan warga pondok pesantren.

“Dalam reliasasi instalasi pengolahan air minum ini,  Tim DM tidak sendiri, namun didukung tenaga ahli, yaitu Bapak Wandi Yuwono, A.Md., yang dapat menjawab kriteria yang kami tentukan.” ujar Dosen Jurusan Teknik Elektro ini.

Dalam masa pandemi COVID-19, Tim DM juga tidak lupa menyampaikan pentingnya melaksanakan protokol kesehatan. Dukungan tim Doktor Mengabdi terkait protokol kesehatan diwujudkan juga dalam pemberian sabun untuk cuci tangan. “Pada kunjungan pertama, kami berikan sejumlah sabun cuci tangan untuk para santri yang keluar masuk pondok. Terutama bagi santri yang akan memasuki kelas,” tukasnya.

Tim juga menyosialisasikan betapa air yang diminum akan sangat mempengaruhi kesehatan santri. Jika sebelum diolah TDS (Total Dissolved Solid = jumlah padatan logam terlarut dalam air), air di sekitar ponpes terukur 250ppm. Tapi setelah diolah, turun ke angka 12-13an ppm. “Sebelumnya para santri santai saja  minum air sumur secara langsung. Lalu kami perlihatkan bahwa dengan alat yang kami hibahkan, air akan lebih aman untuk dikonsumsi,” jelas dosen jebolan Miyazaki University ini.

Dari kunjungan pertama, pada Juli 2020 lalu, hingga pelatihan operasional alat, tim selalu berkomunikasi dengan warga setempat, terutama pengurus ponpes. Dari hasil wawancara dan kuesioner, sebagian besar mengharapkan keberlanjutan program ini. Secara spesifik, salah satu warga pondok pesantren mengharapkan adanya pelatihan dan realisasi air minum dalam kemasan. (div/mat)