Tiket Pesawat Melambung, Bandara Abd Saleh Sepi Penumpang

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Gara-gara harga tiket pesawat naik tajam, dari Rp 600 ribu menjadi Rp 1,3 juta, penumpang di Bandara Abdurahman Saleh, di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sepi. Penurunannya mencapai 20 % – 25 %.

 

Suasana kedatangan penumpang di Bandara Abdurahman Saleh, Malang yang tidak seramai dahulu.

 

Kepala Bandara Abdurahman Saleh, Suharno (tengah).

“DIBANDING pada periode Januari – Februari 2018, di tahun ini, pada bulan yang sama, ada penurunan 20 – 25 . Jika dahulu,  Senin sampai Kamis masih ramai. Sekarang sepi. Mulai ramai lagi hari Jumat sampai Minggu,” terang Kepala Bandara Abdurahman Saleh, Suharno, Jumat (22/03/2019).

Salah operator bus malam Malang – Jakarta, Bambang.

Berdasarkan data Bandara Abd. Saleh, tahun 2018 sebanyak 1,3 juta penumpang datang dan pergi. Sebagian besar penumpang dengan rute penerbangan Jakarta – Malang. Dalam sehari, Abd Saleh melayani 14 penerbangan. Rinciannya,  tujuan Jakarta 12 kali penerbangan, Bali dan Bandung masing-masing satu kali penerbangan dengan jumlah maskapai melayani 6 maskapai, yakni Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, Batik Air,  dan Lion Air.

“Jika dahulu dalam sehari bisa sampai 24 kali penerbangan, datang dan pergi, sekarang rata-rata ada 3 – 4 penerbangan yang dicancel karena sepi penumpang. Yang paling sering  dicancel tujuan Jakarta dan Bandung,” beber Suharno.

Menurut Suharno, ada dua faktor yang menyebabkan sepinya penumpang di Bandara Abd Saleh. Pertama, mahalnya tiket pesawat. Jika periode sebelumnya tiket pesawat Malang-Jakarta berkisar Rp 600 ribu – Rp 700 ribu, kini bisa mencapai Rp 1,1 juta,  bahkan lebih. Begitu pula dengan harga tiket tujuan Bali dan Bandung, kini rata-rata sudah di atas satu juta rupiah.

“Ini belum charge bagasi yang diberlakukan oleh salah satu maskapai, yakni Lion Air. Kalau untuk Citilink, charge bagasi masih ditangguhkan,” jelasnya.

Selain harga tiket pesawat yang mahal, adanya akses jalan tol Jakarta – Surabaya juga menjadi penyumbang sepinya penumpang. Dengan jarak tempuh yang semakin cepat, dan kondisi lalulintas yang cepat, banyak pengguna pesawat berpindah menggunakan moda trnasportasi darat seperti bus malam atau mobil pribadi.

“Kalau untuk dampak Tol Mapan, belum ada. Tapi kalau untuk Tol Trans Jawa, yang sudah menghubungkan Surabaya – Jakarta, memang ada dampaknya, meski tidak besar. Mengapa? Karena selama ini Bandara Abd Saleh tidak hanya melayani masyarakat Malang Raya, tapi juga Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri dan sebagian Pasuruan. Adanya Tol Trans Jawa, masyarakat Pasuran kini lebih memilih berangkat dari Bandara Juanda,” ungkap Suharno.

Sepinya penumpang di Bandara Abd Saleh diprediksi akan semakin parah jika Bandara Kediri dan Tol Mapan sudah efektif berfungsi. “Jelas, akan sangat berpengaruh. Dan itu adalah penumpang riil di Bandara Abd Saleh. Mengantisipasi hal ini,  kami mau tidak mau,  harus meningkatkan mutu pelayanan,  terutama untuk efisiensi waktu. Selain itu,  kami berharap pihak maskapai bisa menurunkan harga tiket pesawat,” tandas pria yang akrab disapa Harno.

Terkait dengan peningkatan status Bandara Abdurahman Saleh menjadi bandara internasional, dengan maksud untuk pengembangan pariwisata, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kabupaten  Malang, Ir.Tomie Herawanto,MP, menegaskan, Pemkab Malang tetap berupaya untuk meningkat status tersebut.

“Tetap. Hal itu sudah menjadi kesepakatan dan program kami. Jika saat ini sepi, karena ada jalan tol dan mahalnya tiket, saya rasa ini hanya sementara. Masyarakat masih membandingkan atau ingin mencoba tol yang baru. Kalau untuk pesawat kan mempunyai pangsa pasarnya sendiri,” jelas Tomie.

Sementara itu, menurut salah satu staff operator bus malam yang melayani trayek Malang – Jakarta, Bambang Dwi Winarto, memang ada kenaikan jumlah penumpang saat harga tiket pesawat melambung tinggi. “Sewaktu tiket pesawat mahal, ada kenaikan penumpang bus kami. Tapi ini tidak berjalan lama. Saat ini sudah kembali normal,” katanya.

Adanya Tol Trans Jawa, menurutnya, belum mendongkrak jumlah penumpang secara signifikan. “Adanya tol memang bisa memangkas waktu tempuh 3 sampai 4 jam. Bus dengan trayek berbeda yang menggunakan Tol Trans Jawa,  memang mengalami kenaikan jumlah penumpang. Hanya kalau untuk Malang – Jakarta belum, karena tidak seluruhnya melewati tol,sebagian masih lewat Pantura,” pungkasnya.

Namun ada hal menarik bagi pengguna bus malam dengan rute jarak jauh. Dengan adanya jalan tol bisa mengurangi angka kecelakaan. “Benar,  lewat jalan tol memang mengurangi angka kecelakaan, karena sopir relatif tidak capek,” pungkasnya. (diy)