Sunan Ampel, Guru Wali Tanah Jawa

Sunan Ampel

Sunan Ampel. Sejumlah wali yang hidup dimasanya, adalah muridnya. Selain dikenal santun, penguasan ilmu kanoragannya tak bisa disepelekan.

TOKOH sakti ini juga kondang sebagai ahli Tauhid hingga banyak orang yang ingin meguru kepadanya. Bagaiamana sepak terjang suami Dewi Candrawati alias Nyai Ageng Manila ini dalam melakukan siar Islam, berikut kisahnya.
Dalam perjalanannya melakukan siar agama, Sunan Ampel sempat mampir atau singgah di Maja-pahit. Keluhuran budi dan wawasan ilmu agama ser-ta ajikasekten yang dimiliki, membuat raja Majapahit kepincut. Hingga pada akhirnya sang raja menikah-kan putrinya yang bernama Dewi Candrawati atau Nyai Ageng Manila. Tak cukup itu, sang raja juga menghibahkan tanah perdikan kepadanya,tepatnya di wilayah Ngampel. Kemudian dalam perjalanan siar agamanya, Sunan Ampel menyisir kawasan pinggi-ran yang pastinya saat itu masih hutan belantara, di-antaranya lewat Krian lalu terus ke Wonokromo dan singgah tak lama di Kembangkuning. Nah, sesampai-nya di Kembangkuning inilah beliau bersama rom-bongan beristirahat. Surau pun dibangun alakadar-nya olehnya, untuk menjalankan sholat berjamaah. Dan seiring bergulirnya waktu, surau yang didirikan menjadi cikal bakalnya berdirinya masjid, yang kon-dang dengan nama Masjid Rahmad Surabaya. Se-sampainya di Ngampel pun,tak jauh beda. Surau di-buat,diperuntukkan bagi para santri untuk wulang nguruk ngaji. Raden Rahmat menjadi penguasa di wilayah itu yang pada akhirnya daerah tersebut di-namai Ampel Denta.

Mursid Nan Dikdaya
Data sejarah menyebut, Sunan Ampel lahir pa-da kisaran tahun 1401 di Cempa Lantaran sangat lantip otaknya, beliau disebut sebagai mursid atau guru nan dikdaya alias sakti mandraguna. Terbukti banyak masyarakat yang datang berguru kepadanya, termasuk para punggawa Majapahit dikala itu juga fakir miskin. Padanya Sunan Ampel mengajarkan be-tapa bahayanya soal Mo Limo. Yakni main atau ber-judi, minum minuman keras kemudian mencuri, menghisap candu dan melakukan zinah. Sebab di-masa itu, kondisi ahlak masyarakat memang sedang rusak. Kehadiran Sunan Ampel, seakan menjadi obat bagi mereka yang sedang kecanduan. Adapun dari sekian banyak muridnya selain para wali yang ada di tanah jawa, adalah Mbah Sholeh. Pria sepuh ini,sehari-hari bekerja sebagai tukang sapu Masjid Ampel pada masanya. Meski hanya sebagai tukang sapu, tapi ajikasekten Mbah Sholeh cukup tinggi. Beliau lumantaran Sunan Ampel, bisa meninggal sampai sembilan kali banyaknya. Beda Mbah Sholeh, lain lagi dengan murid Sunan Ampel yang lain, yakni Mbah Sonhaji yang kondang dengan sebutan Mbah Bolong. Kharomah yang dimiliki, bisa melihat Kakbah dari pengimanan masjid,lewat lobang kecil yang ada di sebelah kanan dan kiri masjid.*