Sistem Pipanisasi Sirkulasi Balik, Solusi Atasi Krisis Pengairan Sawah

Solusi alternatif, sistem pipanisasi sirkulasi balik

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Seiring datangnya musim kemarau menimbulkan dampak buruk munculnya krisis air untuk pengairan di sawah dan ladang petani Kabupaten Malang. Pada wilayah Desa Mangunrejo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang misalnya, ratusan petani mengeluh minimnya pasokan air untuk sawah dan ladang mereka. Agus Budiarto salah satu petani muda di desa Mangunrejo mengatakan, saat ini petani mengalami kekurangan pasokan air untuk pengairan sawah dan ladang.

 

HAL INI akibat adanya proyek pembuatan saluran irigasi yang dijalankan. Semua lahan pertanian yang aliran airnya diperbaiki diinstruksikan (diperintahkan) airnya harus dimatikan. Selama sekitar 3 tahun terakhir ini, petani mengeluh karena terhambat mendapatkan air untuk pengairan sawah dan ladang. Adanya hal tersebut, Petani mengalami beberapa kerugian.

Tanaman jagung, hasil sistem pipanisasi sirkulasi balik milik Agus.

Kerugian tersebut meliputi tanam serempak terkendala, serangan hama tahaman, dan tikus merajalela. Tidak hanya itu, akibat negatif lain yang muncul diantaranya, percepatan tanam terganggu, serangan penyakit dan hama tikus tinggi, pendapatan petani menurun bahkan menderita kerugian besar karena gagal panen.

Agus Wahyudi.

Pada satu sisi pengeluaran petani untuk biaya produksi tinggi, akibat gulma atau rumput tumbuh subur karena kurang air. Ironisnya hal ini menjadikan pendapat an petani di 3 tahun terakhir ini menurun.

Adanya berbagai hal tersebut lambat lain juga menjadikan menurunnya  minat pemuda untuk menggeluti bidang pertanian. Sebagai jalan keluar, maka diharapkan pembangunan saluran irigasi dipercepat, agar pasokan untuk pengairan bisa normal kembali.

“Saya kasihan kepada petani, karena akibat kekurangan air untuk pertanian dan mengairi ladang menjadikan sebagian gagal panen dan rugi besar,” tegas Agus dalam wawancara via WhatsApp baru-baru ini.

Solusi Alternatif

Sebagai jalan keluar, maka Agus mencoba memberikan solusi alternatif. Ia menceritakan, dari hasil uji coba yang dijalankan saat pengalaman magang di Jepang tahun 2009. Cara yang dilakukan adalah air dari sisa pembuangan lahan sekitar atau air buangan, ditarik kembali ke atas. Yaitu dengan cara dipompa dengan  pompa air listrik.

Dengan debit 1 liter per detik dari sekian pompa yang dipakai, yang paling irit adalah menggunakan penggerak listrik. Sistem seperti ini biasa dinamakan Sistem Sirkulasi Balik. Lewat sistem ini maka air bisa digunakan untuk mengairi lahan seluas 2 ha. Setelah air ditampung di tandon, selanjutnya lewat pipa (pipanisasi) bisa didistribusikan merata ke petani-petani yang membutuhkan air.

“Saya berharap sistem yang saya pakai ini bisa dipakai untuk petani lainnya secara meluas. Hal ini penting agar kesejahteraan petani bisa meningkat kembali,” tutur Agus bersemangat.

Banyak keuntungan dari penerapan sistem ini. Yaitu debit air dari sungai induk bisa dikurangi hingga 50 persen. Manfaat lain yaitu penghematan pemakaian air untuk mengairi sawah dan ladang. Faedah lain yaitu bisa mengurangi kesenjangan dan petani tidak akan berebut  dalam pemenuhan kebutuhan air. Faedah berikutnya adalah percepatan tanam bisa tercapai dan pengeluaran biaya produksi bisa ditekan.

Manfaat berikutnya adalah tanam serempak bisa tercapai sehingga bisa meningkatkan penghasilan petani. Manfaat terakhir adalah meminimalisir terjadinya serangan hama pada tanaman padi atau tanaman lainnya. Agus berharap sistem pipanisasi sirkulasi balik ini bisa dipergunakan pada Gapoktan di wilayah setempat, untuk selanjutnya berkembang ke tingkat kecamatan-kecamatan.

Dikatakannya, sebaga tahap permulaan (awal) maka dirinya berharap ada bantuan dari pemerintah desa setempat untuk pengadaan berbagai perlengkapan dan alat-alat untuk bisa mewujudkan sistem pipanisasi sirkulasi balik tersebut.

“Saya berharap sistem yang saya tawarkan ini mendapat bantuan dari pemerintah desa setempat, selanjutnya dipakai luas se-Kabupaten Malang bahkan Se-Indonesia. Agar nantinya muncul generasi muda cinta pertanian untuk mewujudkan swasembada pangan,” tutur Agus mengakhiri. (hadi)