Pujiharjo, Desa Terpencil Yang Punya PAD Rp 302 Juta

Pantai Sipelot yang menjadi andalan Pemerintah Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang untuk mendongkrak pendapatan asli desa.

Ada perahu yang bisa dipakai para wisatawan yang berkunjung ke Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Letak Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, memang jauh dari pusat Kota Malang, sekitar 80 Km. Butuh waktu 3 jam untuk mencapai desa yang terletak di pesisir laut selatan ini dengan kendaraan sendiri. Meski jauh dari pusat pemerintahan, namun pembangunan di desa ini sangat maju. Salah satu indikatornya adalah pada 2018, Pendapatan Asli Desa (PAD) mencapai Rp 302.732.000.

 

Kades Pujiharjo, Hendik Arso Warga Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, bersama Presiden Joko Widodo.

BANDINGKAN dengan PAD yang didapat Pujiharjo pada 2017 yang hanya Rp 100 jutaan. Ada kenaikan yang sangat signifikan.

Warga Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, kerja bakti membangun jalan.

Menurut Kepala Desa Pujiharo, Hendik Arso,  besarnya PAD yang didapat pada 2018 berasal dari tiket masuk tempat wisata  yang dipatok sebesar  Rp 5.000/orang.  Dengan biaya ini, wisatawan sudah bisa menikmati Pantai Sipelot, Air Terjun Pasir Putih (Wedi Putih), Pantai Tenger,  dan Pantai  Watu Kuwung.

Wisatawan asal Jerman usai menikmati ombak di Pantai Sipelot dengan berselancar.

“Cuma, kalau wisatawan mau ke spot wisata lain, seperti Air Terjun Pasir Putih (Wedi Putih), Pantai Tenger, dan Pantai  Watu Kuwung, kami menyediakan perahu. Taripnya Rp 25.000/orang. Di sini ada belasan perahu yang siap mengantar para wisatawan,” kata Hendik Arso, Sabtu (16/03/2019) di desanya.

Selain dari wisata, sumber PAD Pujiharjo lainnya berasal dari penggilingan koral, pengelolaan sampah, air bersih yang  melayani sekitar 600 KK, BMT (bantuan tunai untuk masyarakat berupa beras dan telor).

Pembangunan Kantor Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang dengan sumber dana dari pendapatan asli desa.

“Bahkan, saat ini sedang membangun toko di atas tanah kas desa dengan ukuran 8 x 12 m2. Renacananya, toko ini untuk grosir bagi masyarakat. Maksudnya, dari pada pedagang di sini kulakan di Dampit yang jaraknya sangat jauh, lebih baik kulakan di toko yang dikelola BUMDES ini (Desa Mart) saja dengan harga yang sama dengan kulakan di Dampit,” kata Hendik seraya menambahkan, Desa Mart ini akan dilaunching tahun 2019 ini.

Menurut Hendik, semua usaha ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang membawahi Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS). “Jadi, BUMDES punya POKDARWIS. Kemudian POKDARWIS inilah yang menjalankan unit usaha pariwisata tersebut, termasuk juga unit usaha rumah tamu (rumah singgah) yang sekarang sedang dibangun,” terangnya.

Besarnya PAD yang didapat Pujiharjo, membuat desa ini mampu membangun kantor desa yang sangat megah meski sampai sekarang masih dapat proses pembangunan. “Jadi, kantor desa ini kami bangun tanpa menggunakan Dana Desa (DD) maupun Anggaran Desa Desa (ADD). Sedangkan DD dan ADD kami pakai untuk pembangunan infrastruktur, seperti jalan, perbaikan gorong-gorong (drainase) dan sebagainya,” ujar Hendik.

Menurut catatan Pemerintah Desa Pujiharjo, penerimaan DD tahun 2018 sebesar Rp 769.188.000. Tahun 2019  sebesar Rp  895.417.000. Sedangkan penerimaan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2018 sebesar Rp 471.496.000. Tahun 2019 sebesar Rp  492.448.000.

Menurut Hendik, DD/ADD  ini digunakan untuk pembangunan jalan desa sepanjang  670 meter, drainase 5 titik, plengsengan 2 titik, gorong-gorong 2 titik, bangun irigasi sawah 100 meter, membangun gapuro makam 1 titik, renovasi posyandu 1 lokal,  serta renovasi rumah wisata 1 unit. (iko)