Polisi Masih Ungkap Motif Pengeroyokan Maut Turen

KEPADA awak media Kanit Reskrim Polsek Turen, Iptu. Hari Eko Utomo membenarkan tewasnya Juari akibat penganiayaan. “Kejadiannya dini hari tadi sekira pukul 03.00, dilaporkan ke kami pukul 04.00, kasusnya penganiayaan yang mengakibatkan satu orang warga Desa Tumpukrenteng meninggal dunia atas nama Juari,” terang Kanit Reskrim Polsek Turen, Minggu (25/11/2018).

 

 

MENGENAI motif penganiayaan sehingga menewaskan korban, polisi belum berani berspekulasi. “Kami saat ini bersama tim dari Polres Malang sedang melakukan penyelidikan dan pengumpulan bahan dan keterangan terhadap kasus ini. Sementara ini para pelaku masih belum tertangkap, sehingga kami belum bisa menentukan apa motif penganiayaan ini,” jelas Hari.

Usai dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), jasad korban langsung dibawa ke Instalasi Kedokteran Forensik (IKF) Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang. “Hasil autopsi belum keluar, namun ada luka parah di bagian punggung dan kepala korban, dugaan awal berdasarkan keterangan para saksi, korban memang dianiaya oleh pelaku yang jumlahnya lebih dari satu,” tegas pria yang pernah menjabat sebagai KBO Satreskrim Polres Malang.

“Doakan saja kasus ini segera terungkap, kami masih melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap para pelaku,” tandas Hari Eko.

Sementara itu berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, sebelumnya korban bersama isterinya, Jamiatul Masamah menonton pertunjukkan kuda lumping. Menjelang dinihari, mereka berdua pulang kerumah, Juari yang ditenggarai habis minum-minuman keras langsung tertidur diruang tengah. Tak berapa lama, pintu rumah korban diketuk orang, Farida, adik korban membuka pintu.

Tanpa banyak omong beberapa orang, langsung memukuli korban dan menyeretnya keluar rumah. Juari pun akhirnya merenggang nyawa setelah dikeroyok. Polisi pun hingga kini masih memburu para pelaku penganiayaan yang membuat nyawa Juari melayang. (diy)