Petungsewu dan Kucur, Layak Jadi Desa Wisata Berbasis Konservasi Alam

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Sebagai desa yang berbatasan dengan hutan di lereng Gunung Kawi, Desa Petungsewu dan Kucur,  di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dianggap sangat potensial dikembangkan menjadi desa wisata berbasis konservasi atau pelestarian satwa dan alam.

 

Para pemerhati dan pelastari satwa sedang melakukan pengamatan burung di P-Wec Petungsewu.

 

MENURUT Ketua Profauna Indonesia, Rosek Nursahid, pihaknya bersama organisasi nirlaba yang concern terhadap konservasi satwa dan pelestarian alam, P-WEC (Petungsewu Wildlife Education Center) telah melakukan berbagai upaya konservasi satwa dan pelestarian satwa di Desa Petungsewu.

“Dari berbagai kegiatan dan kerja sama yang kita lakukan bersama dengan teman-teman dari P-WEC, kita berkeyakinan, Desa Petungsewu dan Kucur sangat berpotensi untuk dijadikan desa wisata ramah burung,” terang Rosek, Selasa (28/05/2019).

Menurutnya, setidaknya ada dua alasan mendasar mengapa Desa Petungsewu dan Kucur potensial dijadikan kawasan desa wisata berbasis konservasi satwa dan pelestarian lingkungan. Pertama,  hutan atau habitat buatan seluas 5 hektar di Desa Petungsewu, saat ini dihuni 48 jenis burung lokal dan keragaman hayati flora yang terdiri dari 100 jenis tumbuhan serta satwa liar lain, seperti lutung jawa, kucing hutan, musang. Kondisi habitat buatan yang menyerupai habitat aslinya dengan keaneka ragaman hayati,  baik satwa maupun flora, dengan didukung desa sekitar, yakni Petungsewu dan Kucur, dinilai sangat pas untuk dijadikan kawasan wisata konservasi, dengan memberdayakan masyarakat sekitar.

“Dari pemantuan yang dilakukan sejak Desember 2018 hingga Mei 2019, kami mencatat,  ada 48 jenis aves atau burung, yang terdiri dari bermacam-macam. Bahkan tercatat ada 7 jenis elang, maupun binatang liar lainnya di kawasan yang dikembangkan P-WEC. Sayangnya,  dua jenis burung lokal,  seperti burung kacamata (Zosterops palpebrosus) dan Bentet kelabu (Lanius schach) saat ini sudah punah karena penangkapan liar secara massif,”ungkap Rosek.

Kedua, dari kajiannya di Desa Jatimulyo, Yogyakarta, Ketua Profauna Indonesia melihat, dengan memanfaatkan potensi yang ada, satwa dilestarikan di alam bebas tanpa diganggu dan habitat ditata sedemikian rupa, ternyata semakin meningkatkan perekonomian Desa Jatimulyo.  “Itu yang terjadi di Desa Jatimulyo. Dengan menjaga keasrian lingkungan dan satwa dilindungi, dibiarkan bebas, banyak wisatawan yang datang kesana. Bahkan menginap di rumah warga yang dijadikan home stay. Jika di sana bisa, mengapa di sini tidak? Isu pariwisata yang lagi booming kan back to nature,” jelasnya.

Tentu,  untuk menjadikan Desa Petungsewu dan Kucur seperti layaknya Desa Jatimulyo, bukan perkara mudah. Butuh keterlibatan pemerintah, baik pemerintah daerah,  desa maupun masyarakat lokal.

“Saat ini desa yang siap dengan Peraturan Desa untuk pelarangan berburu adalah Desa Kucur. Ini tentu sangat kita apresiasi. Kita pun terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat Petungsewu dan Kucur, bagaimana dan hal apa yang harus dilakukan untuk menuju kawasan desa wisata berbasis konservasi,” kata alumni Universitas Brawijaya ini.

Rosek  menambahkan, Kabupaten Malang sebenarnya sangat berpotensi untuk pengembangan wisata berbasis konservasi. “Mulai dari utara hingga selatan, Kabupaten Malang mempunyai hutan dan desa tepi hutan. Mengapa ini belum dimanfaatkan? Selama ini pemda hanya sebatas mewacanakan, namun langkah kongkritnya  seperti apa, terus terang kami belum melihatnya. Jika semua kawasan wisata harus dibuat modern tanpa peduli kelestarian lingkungan, jika sudah habis, yang rugi siapa? Kan masyarakatnya,” tandasnya.

Senada dengan Rosek, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten  Malang, Didik Gatot Subroto, menilai arah pariwisata di Kabupaten Malang selama ini belum jelas. “Kalau menurut saya, pariwisata Kabupaten Malang, kabur, ” tegasnya.

“Seharusnya,  dengan kondisi tata ruang yang mengalami perubahan dengan adanya KEK Singosari, maupun Tol Mapan, dinas terkait bisa memetakan wilayah pariwisatanya mana saja, mana yang layak dibuat konservasi, mana yang budaya atau sentra wisata kulinernya dimana. Kemudian untuk mempersiapkan itu bagaimana? Masayarakat lokalnya sudah diedukasi belum? Pengembangan pariwisata kan tidak boleh asal-asalan,” kata Didik.

Dengan pengembangan pariwisata yang terencana dan terpadu, politisi PDIP ini yakin sektor pariwisata Kabupaten  Malang sangat memungkinkan menyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) lebih besar.

“Selama ini kan hanya promo? Memang  betul pariwisata butuh promosi, tapi apa yang kita dapatkan dari promosi itu? Seimbang tidak biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang kita peroleh? Sudah memberikan kontribusi signifikan tidak ke PAD kita? Jangan kita yang mengeluarkan biaya promo tinggi, namun daerah lain yang justru menikmati hasilnya,”pungkas Didik.  (diy)