Petani Kopi Dampit Mengeluh, Pupuk Sulit Didapatkan

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Petani kopi di desa Amadanom Kecamatan Dampit mengeluhkan kesulitan memperoleh pupuk dan berimbas buruk pada penurunan hasil produksi kopi dari petani. Hal ini dikatakan Sarimin, Kepala Desa Amadanom kepada awak media baru-baru ini.

 

 

Kades Amadanom Kecamatan Dampit.

“SAAT ini perkembangan Ekowisata tersendat-sendat, karena tidak ada dana untuk perawatan. Selain itu,karena mengalami kesulitan mendapatkan subsidi pupuk dari pemerintah”, terang Sarimin.

Seperti diketahui, Desa Amadanom Kecamatan Dampit Kabupaten Malang, dikenal sebagai penghasil kopi,bahkan nama desa berpenduduk sekitar 7000 jiwa ini mulai meroket setelah lahirnya gagasan Ekowisata kopi. Namun sayangnya, petani kopi belakangan ini mengeluh karena sulitnya mendapatkan pupuk.

Kondisi ini berdampak pada Ekowisata kopi,yang tujuan awalnya untuk konservasi, edukasi, dan peningkatan ekonomi masyarakat desa setempat. Sarimin menuturkan, saat ini pengadaan pupuk itu ada, tetapi itu diperlakukan hanya untuk kelompok tertentu saja, atau mereka yang banyak duit.

“Kami berharap kepada pemerintah, harusnya pembagian pupuk itu dilakukan secara adil. Kalau tidak, dibuat sistem seperti petani tebu.Toh harganya mahal sebenarnya tak jadi masalah, kami siap ikuti aturan mainnya”, tegasnya.

Karena sulitnya petani kopi mendapatkan pupuk, hasil kopi Amadanom menjadi turun drastis.

“Seperti Komunitas Kopi Tani Harapan, yang sebelumnya bisa panen 4 ton, dengan kondisi seperti sekarang justru turut drastis menjadi 2 ton”, pungkas Kades yang jabatannya masuk tiga periode ini dengan nada kecewa.

Sekilas tentang Desa Amadanom. Memiliki sejumlah potensi, seperti peternakan, perkebunan, industri rumahan, dan pertanian. Bertani merupakan mata pencaharian pokok masyarakat, adapun komoditas pertanian juga bermacam-macam, salah satunya adalah kopi. (hadi)