Petani Kecopokan Hasilkan 360 Ton Nila

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM –  Kampung Rajut Kecopokan dan Cafe Apung Rowo Klampok di Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, benar-benar mempu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.  Potensi ikan nila, mampu menghasilkan 360 ton per tahun. Sedangkan Cafe Apung Rowo bisa meraih Rp 100 juta per bulan.

 

 

Wakil Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi, MM, menikmati keindahan panorama alam bendungan Karangkates dari dalam Cafe Apung Rowo Klampok, Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

HAL INI disampaikan Wakil Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi, MM, saat mengunjungi Kampung Rajut Kecopokan dan Cafe Apung Rowo Klampok, Kamis (13/12/2018). ”Usaha budidaya ikan nila di Bendungan Kecopokan yang berada dalam aliran Bendungan Karangkates ini memiliki potensi bagus. Kunjungan ini dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat, karena masyarakat sangat cocok budidaya ikan nila,” katanya.

Kepada wabup, para petani ikan menyampaikan,  hasil budidaya ikan nila mereka sudah cukup bagus,  mencapai 2 – 3 ton per tahun tiap orang. Mereka tergabung dalam kelompok tani yang beranggotakan 180 orang. “Dengan demikian, per tahunnya, satu kelompok ini mampu memproduksi kurang lebih 360 ton ikan nila,” kata Sanusi.

”Harga jualnya  cukup bagus,  antara Rp 24 ribu – Rp 30 ribu per kilogram. Namun kalau lagi musim ikan nila,  harganya di bawah Rp 20 ribu per kilonya. Akan kami kembangkan dengan berusaha membantu dan menyiapkan benih ikan nila kepada para petani di sini,” terang Sanusi.

Usai dari Kampung Rajut, Wabup  Malang melanjutkan kunjungannya ke Cafe Apung Rowo Klampok. Untuk sampai ke dalam cafe, setiap pengunjung akan menikmati sensasi menyebrang danau, naik perahu getek terlebih dahulu.  Sanusi mengaku, destinasi wisata andalan Desa Ternyang ini bisa dikembangkan sebagai tempat wisata yang semakin menarik dan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan. Demikian pula keberadaan ikan yang ada di Rowo Klampok ini,  bisa dipancing dan dikelola serta dikembangkan lagi sehingga semakin meningkatkan potensi wisata.

”Cafe Apung ini dikelola oleh masyarakat desa namun berada di bawah koordinator Kepala Desa Ternyang. Sabtu dan Minggu banyak dikunjungi pengunjung. Dengan menjual aneka makanan dan minuman ala cafe, omset Cafe Apung ini sekitar Rp 60 juta – Rp 100 juta per bulan. Cafe ini juga didukung wahana permainan,  seperti perahu motor dengan sewa Rp 5 ribu per orang sekali putaran, sepeda air Rp 10 ribu per 10 menit hingga mini jet ski. Harus dikelola lagi agar semakin menarik, serta pemandangan rawa ini semakin sejuk, bersih dan asri,” harap wabup. (iko)