Pesona Pantai Ngudel, Sindurejo, Malang

Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna bersama Kepala Desa Sindurjeo, Kecamatan Gedangan, Darman menatap sebuah bukit.

Seperti daerah-daerah lain di pesisir laut selatan, Kabupaten Malang, Jawa Timur juga dianugerahi pantai yang indah-indah. Salah satunya Pantai Ngudel di Desa Sindurejo, Kecamatan Gedangan. Sayang, belum dikelola dengan maksimal. Bahkan sejumlah fasilitas belum dilengkapi, seperti jalan masuk. Namun tahun 2016 ini, jalan masuk dari Jalur Lintas Selatan (JLS) sepanjang 2,5 Km akan dihotmix.

Pada Senin (18/4/2016) hi-ngga Selasa (19/4/2016), seluruh pimpinan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) plus camat se Kabupaten Malang, tumplek blek di Pantai Ngudel, Desa Sindure-jo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Bahkan, sejumlah pengusaha serta pejabat militer, ikut dalam Bina Desa Wisata ini.
“Pariwisata ini kan sudah menja-di program nasional. Karena itu, Pe-merintah Kabupaten Malang harus memberikan dukungan, termasuk ikut mengangkat potensi pariwisata baru maupun mengembangkan wisa-ta-wisata yang sudah ada, seperti di Pantai Ngudel ini,” kata Bupati Ma-lang Dr. H. Rendra Kresna, ditemui di lokasi acara.
Dia menambahkan, pada perio-de pertama kepemimpinannya (2010 – 2015), ada program Bina Desa. “Nah, sekarang, ada progrm Bina Desa Wisata. Dalam hal ini kita akan bantu pemerintah desa dalam rangka memperkuat APBDes-nya dengan PADes (Pendapatan Asli Desa), khu-susnya dari sektor pariwisata, dengan cara memperbaiki infrastruktur menuju tempat pariwisata,” jelasnya.
Bupati mencontohkan jalan masuk menuju Pantai Ngudel sepan-jang 2,5 Km. Pada tahun anggaran 2016 ini segera dihotmix agar wisa-tawan senang, dan dapat menambah pendapatan pemerintah desa. “Tapi yang tak kalah pentingnya adalah, pariwisata ini dapat bersinergi dengan potensi pariwisata lain di Malang Raya,” harapnya.
“Jadi, kalau di Malang Raya ini ada Bromo Tengger Semeru (BTS) yang menjadi pariwisata top di Indo-nesia, kita bisa mengambil manfaat dengan menggerakan wisata-wisata yang bisa dikunjungi. Sebelum ke Bromo, mereka bisa singgah di pan-tai-pantai Malang selatan atau potensi wisata lain di Kabupaten Malang,” imbuhnya.
Selama berada di Pantai Ngudel, berbagai kegiatan digelar, mulai lomba volley pantai antar pejabat, malam hiburan bersama group band Genuen dari karyawan Dinas Penda-patan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Malang, tanam 1.000 mangrove, membagikan 190 paket sembako untuk orang tak mampu dan melepas tukik (anak penyeu) ke laut.

Harapan Baru Masyarakat Sindurejo
Keberadaan Pantai Ngudel, di Desa Sindurejo, Kecamatan Geda-ngan, Kabupaten Malang, Jawa Timur belum lama dibuka. Baru sekitar 2 ta-hun lalu. Karena itu jumlah kunjungan pun belum terlalu banyak. Hanya Sabtu dan Minggu dengan tarif Rp 5.000 per orang. Apalagi jalan menu-ju pantai belum diaspal 100 %. Namun bila dikelola dengan baik, pantai ini bakal menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Mengapa diberi nama Pantai Ngudel? Kepala Desa Sindurejo, Kecamatan Gedangan, Darman me-ngaku, tidak ada cerita khusus. Menu-rutnya, pada 2003, saat dia bersama warga desa lainnya bermain di pantai ini, ternyata di tengah-tengah sudut, antara timur dan barat, ada batu (bukit) yang menjulang tinggi. “Orang-orang melihatnya seperti udel bodong (pusar yang menonjol keluar, red). Lalu, oleh warga, pantai ini disebut Pantai Ngudel. Itu saja,” katanya.
Terkait pembukaan Pantai Ngu-del, Darman mengisahkan, saat masih menjadi Ketua Karang Taruna tahun 2003, kawasan ini masih berupa hutan belantara, dan pembangunan JLS (Jalur Lintas Selatan) belum dimulai. Jarak pantai dengan pusat Desa Sindurejo pun cukup jauh, sekitar 15 Km. Sehingga untuk membuka jalan menuju pantai ini tidak mungkin kalau hanya mengandalkan kekuatan masyarakat desa.
Kebetulan, sekitar 2014, peme-rintah membangun JLS. Lalu, saat Darman sudah terpilih menjadi Kepa-la Desa Sindurejo, dan pada 2013 – 2014 pembangunan JLS melintasi kawasan Pantai Ngudel, kesempatan ini pun dimanfaatkan. “Tepat pada Juni 2014, pengembangan Pantai Ngudel pun dimulai. Kami memanfa-atkan alat berat proyek JLS, sehingga kami tidak perlu bayar mahal. Kami hanya mengambil jam lembur dan hari libur untuk membuka akses jalan dari JLS ke Pantai Ngudel,” terangnya.
Selain meratakan jalan, termasuk juga limbah pengerukan JLS berupa batu putih, dimanfaatkan untuk pe-ngerasan jalan sepanjang 2,5 Km de-ngan lebar 6 meter. “Jadi, kami tidak perlu beli batu. Cukup ganti solar dan bayar sopir. Dan, untuk pengerasan jalan, menghabiskan 1.800 truk batu putih. Coba bayangkan, berapa besar biaya yang harus dikeluarkan kalau dengan biaya sendiri,” jelasnya. *