Permainan Tradisional Jadi Program Ekstra Kurikuler

Wakil Bupati Malang Drs HM. Sanusi di SMPN 1 Wajak, Kab. Malang, Jatim

Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Jawa Timur sangat serius membangkitkan budaya tradisional. Buktinya, belum lama ini telah dilaunchingnya ekstra kurikuler permainan tradisional di sekolah-sekolah oleh Wakil Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, MM. Selain itu juga diselenggarakan pagelaran seni dan budaya di panggung terbuka yang ada di sisi timur Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Sabtu (27/2/2016).

“Ini sesuai dengan arahan Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna, agar kebudayaan dan seni budaya Indonesia ini tidak luntur dengan masuknya seni dan budaya luar negeri,” kata Sanusi.
“Salah satu budaya yang patut kita pertahankan adalah gotong royong. Kebersamaan dalam budaya gotong royong ini dapat kita perkenalkan sejak dini melalui permainan tradisional. Banyak permainan tradisinal yang bisa dimainkan bersama-sama. Dalam per-mainan tradisional, banyak nilai per-tandingan yang patut ditiru. Salah sa-tunya adalah soal menang atau ka-lah. Ini akan membentuk karakter nilai-nilai kebersamaan, atau gotong royong dalam menyelesaikan masa-lah pada anak-anak,“ terang wabup.
Mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang ini menegaskan, bahwa pendidikan yang memadai bisa mengangkat derajat manusia. Bahkan, ia meyakini bahwa yang akan menjadi calon pemimpin masa depan adalah pemuda yang saat ini sedang mengenyam pendidikan. “Saya akan kawal, membantu mewu-judkan kemajuan pendidikan. Kare-na sudah menjadi prioritas program bupati tahun ini. Selain pendidikan, juga kesehatan dan ekonomi,” janjinya.
Soal pelaksanaan seni di sekolah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Ir. Budi Iswoyo, MM menga-takan, nantinya kegiatan ini akan dilanjutkan ke sekolah-sekolah sebagai ekskul wajib di samping pramuka. “Setelah sebelumnya kita susun formatnya, baik itu jenis keseniannya, juga waktu yang digunakan,” katanya.
Kebutuhan guru seni di Kabupaten Malang sendiri menurut Budi Iswoyo bisa dibilang cukup. “Untuk SMP dan SMA/SMK memang ada guru kompetensi. Namun kalau di SD kan hanya guru kelas yang harus bisa semuanya dan S1-nya juga bukan seni. Jadi hanya perlu kita tingkatkan kompetensinya. Salah satunya melalui pelatihan-pelatihan. Belum lama ini kita juga baru saja melatih 80 orang, untuk seni tari, seni rupa, dan seni musik,” jelasnya.
Budi berharap, dengan masuknya seni dalam ekskul wajib sekolah, juga pagelaran seni, akan mendorong kebangkitan seni dan budaya yang pernah dicanangkan di tahun 2014. Selain itu juga akan menjadi pendidikan karakter bagi anak-anak didik agar karakternya betul-betul mencerminkan karakter bangsa Indonesia. Sekaligus untuk menyaring budaya asing yang masuk. “Apalagi sekarang kita sudah memasuki MEA, budaya asing banyak masuk ke negara kita baik itu melalui pertukaran tenaga kerja atau melalui cara-cara yang lain,” tambahnya.*