Penyuluh, Mantri Tani, dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Harus Profesional

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM –  ‘Penyuluh, Mantri Tani, dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) harus lebih profesional. Peran mereka sangat penting  dalam mengawal pembangunan pertanian di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat ini, terdapat 188 tenaga penyuluh bertugas untuk mendampingi dan membina petani maupun kelompok tani di 390 desa di Kabupaten Malang.

 

 

“MESKIPUN belum mencapai kondisi yang ideal, namun hal tersebut bukan menjadi penghalang bagi para penyuluh untuk tetap berkarya dan mengabdikan diri bagi kemajuan pembangunan pertanian di Kabupaten Malang,” kata  Wakil Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi, MM, saat menghadiri Rapat Evaluasi Kinerja Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang  2018 dan Perencanaan Tahun 2019 di Aula Bojana Puri, Kota Kepanjen, Rabu (09/01/2019) siang.

Wabup  berharap, kegiatan ini dapat memberikan kontribusi positif dalam rangka meningkatkan pencapaian target pembangunan bidang pertanian, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab, pertanian masih merupakan leading sektor pembangunan di Kabupaten Malang yang menempatkan peran penyuluh, Mantri Tani, dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang profesional.

”Dalam upaya peningkatan produktivitas untuk menuju swasembada pangan, tantangan perubahan iklim dan persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Untuk menghadapi tantangan tersebut diharapkan agar penyuluh mampu meningkatkan profesionalitasnya baik pengetahuan, penguasaan teknologi dan sikap dalam mendampingi para petani binaan,” terangnya.

Abah Sanusi mengatakan, kebijakan penting Kementerian Pertanian Tahun 2015-2019 yang perlu dikawal pelaksanaanya yaitu Tujuh Strategi Utama Penguatan Pembangunan Pertanian untuk Kedaulatan Pangan (P3KP). Dalam hal ini Pemkab Malang akan terus berupaya mewujudkan kebijakan kementerian tersebut melalui program dan kegiatan yang sinergi. Dilihat dari aspek luas wilayah dan jumlah penduduk Kabupaten Malang yang cukup besar tentunya sangat potensial untuk bisa diwujudkan.

Kondisi Kabupaten Malang yang dikaruniai tanah subur dengan luas areal tanam pertanian padi 657.181 Ha pada tahun 2017, dengan produktivitas 7,04 ton/ha (tertinggi rata-rata ke-2 di Jawa Timur), menghasilkan panen padi sebesar 472.685 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 302.117 ton. Kondisi ini mendukung Kabupaten Malang untuk berkontribusi nyata dalam ketahanan pangan baik di tingkat regional maupun nasional.

Dalam kesempatan ini, Sanusi berharap kepada semua OPD terkait, para penyuluh di lapangan, mantri tani dan petugas POPT untuk selalu berkoordinasi dan bekerjasama dalam mendukung program pemerintah utamanya dalam kesuksesan pembangunan pertanian sesuai dengan tupoksi masing-masing. Serta, melaksanakan program penyuluhan berbasis lokal dengan menggunakan teknologi informasi untuk proses mendapatkan informasi dan pengetahuan, sehingga kebutuhan ilmu pertanian yang dinamis akan terpenuhi.

”Semakin tinggi surplusnya maka bisa dipastikan perkembangan hasil produksi pertanian tersebut semakin baik. Saat ini, pertanian padi surplus sebesar 1.700 ton, harus bisa naik ke 2.000 ton tahun depan. Demikian juga pada sektor pertanian lainnya harus surplus. Kita ukur juga terhadap inflasi dan peningkatan pendapatan Kabupaten Malang dari sektor pertanian. Targetnya, semua komponen komoditi pertanian di Kabupaten Malang, baik padi, jagung, kedelai, cabai, jeruk hingga tanaman holtikultura-nya,” tambahnya ketika diwawancarai awak media.

Selain itu, Sanusi lantas mencontohkan, keberhasilan pertanian cabai di Kecamatan Donomulyo memiliki produktifitas luar biasa, yakni satu hektar sudah Rp 250 juta. Wabup membandingkan, nilai itu jauh lebih tinggi dibanding tebu yang baru Rp 50 juta per hektar. Karena itu, Pemkab Malang terus mengembangkan dan mencari komoditas apa saja yang paling bagus di Kabupaten Malang demi meningkatkan produktifitas pertanian.

”Saat ini, pemerintah melalui Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan sedang fokus pengembangan di komoditas padi. Semoga berhasil, dengan capaian 1 hektar bisa menghasilkan  15 ton. Jika hasil itu dikalikan Rp 5 ribu per kilogram, sudah Rp 75 juta per panen. Sehingga jika setahun bisa panen tiga kali maka hasilnya tembus Rp 225 juta,” pungkas wabup. (iko)