TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Rini ----sapaan akrab Sri Ayu Rahmadhani---- mengajar bahasa Indonesia kepada masyarakat Vietnam dan Filipina.

Pengajar BIPA UMM Kenalkan Budaya Indonesia Melalui Bahasa di Luar Negeri

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sri Ayu Rahmadhani, sejak dua tahun lalu memperkenalkan bahasa Indonesia kepada penduduk Filipina dan Vietnam melalui program Duta Bahasa Negara.

 

Rini —-sapaan akrab Sri Ayu Rahmadhani—- mengajar bahasa Indonesia kepada masyarakat Vietnam dan Filipina.

 

PROGRAM tersebut diusung Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui pengajar bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dari berbagai universitas.

Rini —-sapaan akrab Sri Ayu Rahmadhani—-  bercerita, dirinya menyukai pelajaran bahasa sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun impian untuk belajar bahasa secara formal ke perguruan tinggi kandas karena tidak disetujui orang tuanya.

Karena pandemi COVID-19, Rini mengajar bahasa Indonesia kepada masyarakat Vietnam melalui daring.

Meskipun tidak bisa mengambil peminatan Bahasa ketika SMA dan kuliah, Rani tetap belajar bahasa asing melalui lembaga non-formal dan kegiatan internasional di UMM. “Meskipun saya tidak bisa menempuh pendidikan formal untuk belajar berbagai bahasa, namun pendidikan non formal, seperti Kursus Bahasa Asing (KBA), Belajar di Mandarin Corner UMM, pelatihan dari Badan Bahasa Jakarta, dan  belajar dari mahasiswa Vietnam di UMM, sangat membatu saya memahami berbagai bahasa,” katanya, Selasa (18/05/2021) siang.

Pengajar BIPA UMM ini menambahkan, aktifitasnya di BIPA UMM membuatnya terdorong untuk mengikuti program Duta Bahasa Negara. Setelah tiga kali mengalami penolakan, pada tahun 2019 Rani terpilih sebagai Duta Bahasa Negara di Filipina.  Berbagai kisah menarik dialaminya selama mengajar bahasa Indonesia di Filipina.

“Saya datang di saat banyak gempa mengguncang Filipina. Setiap hari selalu ada gempa dengan skala sangat besar. Selain itu sangat berbahaya sekali bagi orang muslim untuk berkeliaran tanpa pengawalan, karena bisa saja dikira teroris. Selain dua hal tersebut, saya sangat senang mengajar bahasa Indonesia ke masyarakat Filipina karena mereka sangat antusias,” ujarnya.

Pengajar asal Makassar ini menjelaskan, setelah setahun di Filipina,  pada tahun 2020, Rini kembali menjadi Duta Bahasa Negara, namun di Vietnam. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Rini harus mengajar secara daring karena pandemi COVID-19. Pada awal mengajar, ia sangat kesulitan menyampaikan materi, karena banyak masyarakat Vietnam tidak bisa bahasa Inggris, sementara kemampuan bahasa Vietnam Rani masih dasar.

“Untuk menanggulangi kendala itu, dalam menjelaskan arti dari sebuah kata,  saya menggunakan gambar-gambar. Lalu saya juga mengasah kemampuan bahasa Vietnam saya dengan belajar pada teman-teman Vietnam yang ada di UMM. Kadang saya juga minta bantuan teman untuk menerjemahkan materi ke bahasa Vietnam,” jelasnya.

Pada akhir April 2021 lalu, Rini telah menyelesaikan program Duta Bahasa Negara di Vietnam. Rini berharap,  dengan adanya program Duta Bahasa Negara ini dapat mengenalkan kebudayaan Indonesia ke luar negeri. “Saya juga ingin agar bahasa Indonesia semakin dikenal dan diminati  masyarakat luar negeri,” harapnya.  (div/mat)