Penemu Contra War Pensiun, Tekan Kematian Ibu Hamil Dari 39 Menjadi 1 Orang

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Sebagai wilayah yang mempunyai catatan sejarah panjang, tidak heran jika Kabupaten Malang, Jawa Timur, banyak melahirkan putera terbaik. Salah satunya dokter Hadi Puspita, pencetus program Contra War (Contraceptive for Woman At Risk). Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten  Malang ini telah pensiun dari jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak Agustus 2018 lalu.

 

 

dr. Hadi Puspita (tertawa), bersalaman dengan Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna pada acara Hari Keluarga Nasional di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (01/09/2018). Ini adalah kegiatan terakhirnya sebelum pensiun.

SETELAH melakukan janji untuk wawancara, di tengah kesibukannya, dokter pencetus Contra War —sebuah program yang dikembangkan untuk menekan angka kematian ibu melahirkan dan bayi maupun bayi stunting (bayi yang mengalami gangguan pertumbuhan sehingga sering mengalami cacat)—  bersedia ditemui.

Dokter Hadi Puspita adalah salah satu dari sekian narasumber yang enak’ untuk diajak wawancara. Seolah mengikuti  perkuliahan, penjelasan akan dipaparkan secara gamblang oleh dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali ini.

“Maaf,  baru bisa ketemu. Kemarin-kemarin banyak sekali pekerjaan. Memasuki masa pensiun, tentunya banyak yang harus dipersiapkan,”sapanya hangat saat menemui awak media di ruang kerjanya.

Bapak tiga anak ini kemudian dengan panjang lebar menceritakan bagaimana Contra War, yang kini diadopsi oleh UNFPA (United Nations for Population Activities), sebuah badan di bawah naungan PBB. Padahal, awalnya, di dalam negeri justeru dianggap sebelah mata.

“Ditahun pertama dan kedua, program ini memang kurang mendapat sambutan. Namun di tahun ketiga baru mendapatan sambutan setelah berhasil menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayinya, hingga lebih dari 50 %. Pada  tahun 2013,  ada 39 kasus ibu meninggal saat melahirkan. Di pertengahan 2018, dengan program Contra War, kami bisa menekan hingga hanya ada satu kasus saja,”ungkap Hadi Puspita.

Hebatnya, Contra War adalah program asli dari DPPKB Kabupaten  Malang yang ide awalnya dicetuskan oleh dokter Hadi Puspita pada tahun 2014. ”Jadi,  bukan replikasi atau imitasi. Ini original dari kita, dan belum ada di Indonesia, bahkan dunia,”cetusnya.

Dalam penerapannya, Contra War menggunakan metode Survey Land Active (SLA), di mana satu kader KB aktif mengawasi satu RW. Kader yang merupakan relawan dari masyarakat dan telah diberi materi serta pelatihan langsung oleh dr. Pua Librana, Sp.OG (K) dan dr. Irawan, Sp.OG, akan mengawasi kesehatan ibu hamil di lingkungan RW tempat tinggalnya.

“Mereka yang menjadi ujung tombak dengan mengawasai langsung kondisi kesehatan keluarga maupun lingkungan, khususnya ibu hamil,” jelas Hadi Puspita.

Bagaimana riwayat kesehatan, dan penyakit apa yang diderita sebelum dan sewaktu masa kehamilan,  tak luput dari pengamatan kader terlatih DPPKB yang saat ini jumlahnya 4.381 orang.

”Jika ditemukan adanya gangguan kesehatan atau anomali, maka mereka akan melaporkan ke PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) atau Bidan Desa. Nanti mereka yang akan melakukan home visit untuk melakukan diagnosa agar upaya penanganan yang dilakukan bisa dilakukan secara tepat. Jika memang kondisi ibu hamil memerlukan perawatan intensif, akan dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit,”beber dokter asli Turen, Kabupaten Malang ini.

Dengan menggunakan metode SLA, maka resiko kematian ibu hamil saat melahirkan beserta bayinya bisa diminimalisir sejak awal. Karena banyak kasus kematian ibu saat melahirkan terjadi karena penyakit yang dideritanya dan kondisi gizi yang kurang baik. Bahkan,  dengan SLA, resiko bayi lahir stunting bisa dicegah.

“Jika memang ibu tersebut sedang sakit dan mengalami maal nutrisi, akan kita anjurkan agar yang bersangkutan menggunakan kontrasepsi dahulu, sembari kita mengobati penyakitnya atau meningkatkan kondisi tubuhnya. Setelah sehat, kontrapsesinya dilepas, dan ibu itu bisa hamil serta melahirkan secara normal. Bayi yang dilahirkan pun sehat,” papar dokter bercucu satu.

“Selama ini,  dalam kasus bayi stunting,  hanya cenderung dalam penanganan, bagaimana upaya bayi tersebut diberi asupan gizi, bukan pada pencegahannya. Padahal,  hampir rata-rata kasus bayi stunting lahir, karena selama masa kehamilan sang ibu menderita penyakit yang akhirnya menular ke bayinya. Dengan cara ini,  kami menggunakan logika terbalik. Jika bisa dicegah dari awal, kenapa tidak dilakukan? Sebenarnya itu ide dasar dari program Contra War,” imbuh dokter yang masih berkerabat dekat dengan artis Krisdayanti ini.

Dalam pengembangan selanjutnya, SLA akhirnya menjadi cara ampuh untuk melakukan pendataan dan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat secara riil di lapangan.

“Melalui SLA, kami bisa mengetahui secara persis bagaimana kondisi kesehatan masyarakat secara real time. Dan,  ini valid datanya. Jadi, jika ada yang meninggal maupun lahir, langsung terupdate di server aplikasi kami yang kami namai e- Family. Jadi, Contra War ini bisa diterapkan untuk berbagai kepentingan. Tidak hanya masalah kesehatan,” tegas pria yang tidak mau menunda-nunda pekerjaan ini.

Dengan keberhasilan Contra War menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi, serta efektif mencegah kasus bayi stunting, tak heran jika program ini akhirnya diadopsi oleh PBB serta dunia internasional.

Di dalam negeri, sejak 2017, program ini telah menjadi materi diklat BKKBN Pusat yang diberlakukan di BKKBN Provinsi se Indonesia. Bahkan, program pasca sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya memasukan program Contra War dalam kurikulum pendidikannya sejak 2016. “Ke depan, kami akan mematenkan program ini, meskipun nantinya bisa diadopsi oleh siapa saja,” katanya beberapa saat sebelum pensiun. (diy)