Pembangunan Pariwisata Jadi Skala Prioritas

Made Arya Wedhantara

Saat mengadakan pemilihan Puteri Pantai 2016 di Pantai Ungapan, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Jumat (3/6/2016) lalu, Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna menegaskan, Pemerintah Kabupaten Malang menetapkan tiga hal yang menjadi prioritas pembangunan: kemiskinan, lingkungan hidup dan pariwisata.

Keputusan Pemerintah Kabu-paten Malang menetapkan pariwisata menjadi salah satu prioritas pembangunan memang tak berle-bihan, mengingat potensi pariwisata di kabupaten terluas kedua di Jawa Timur ini, sangat besar. Ada wisata laut, air terjun, gunung, budaya dan sebagainya.
Bahkan, pemerintah pusat, melalui Kementerian Pariwisata, juga fokus terha-dap pembangunan di sektor pariwisata. Bahkan sudah menetapkan 10 destinasi pariwisata, salah satunya Bromo – Tengger – Semeru (BTS), sehingga kebijakan Peme-rintah Kabupaten Malang ini sejalan dengan pemerintah pusat.
Bahkan, menurut Kresna Dewanata Prosakh, anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pariwisata, untuk mendukung program pembangunan di sektor pariwi-sata, pemerintah telah menyediakan anggaran Rp 3,9 triliun. “Jumlah ini lebih besar dibandingkan tahun lalu,” katanya.
Untuk itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama Badan Promosi Pariwi-sata Daerah (BPPD) Kabupaten Malang membuat desaign, untuk mengemas bebe-rapa destinasi wisata di Kabupaten Malang. “Kebetulan Kabupaten Malang, khususnya kawasan Bromo – Tengger – Semeru (BTS) menjadi salah satu unggulan dari Kementerian Pariwisata,” kata Kepala Dinas Kebuda-yaan dan Pariwisata, Made Arya Wedhan-tara, Kamis (15/6) siang.
Made menambahkan, pihaknya telah membangun sirip-sirip menuju Bromo. Se-perti di Tumpang dan Poncokusumo, sudah lama dikemas, sehingga menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Malang. Contohnya, desa wisata Gubug Klakah yang sudah menjadi juara nasional 2014. Kami juga su-dah mengemas Nusa Pelangi di Gubug Kla-kah sebagai edukasi susu dan taman buah Jeru, di Tumpang. Ini sebagai salah satu bukti keseriusan Pemkab Malang untuk mendukung program pemerintah mendatangkan 20 juta wisatawan manca-negara ke BTS,” jelas Made.

Mengelola Wisata Pantai
Selain membangun kawasan di seputar BTS yang menjadi salah satu ikon nasional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang juga mengembangkan kawasan wisata pantai.
Menurut Made Arya Wedhantara, Ka-bupaten Malang punya Jalur Lintas Selatan (JLS) yang sangat bagus dengan beberapa pantainya yang indah-indah. “Ternyata ada ratusan titik yang sebetulnya bisa dikemas di pantai terse-but. Inilah salah satu destinasi wisata unggulan yang nantinya dapat mem-perpanjang long stay wisatawan, sehing-ga sebelum atau setelah ke BTS, para wi-satawan bisa berlama-lama di Kabupaten Malang, khususnya di pantai,” jelasnya.
“Kita kan punya matra air, seperti pantai, air terjun. Kita juga punya matra budaya dengan kekuatan religinya, ada candi dan sebagainya. Kita juga punya gunung. Tiga hal inilah yang akan dikemas menjadi andalan kita ke depan, sehingga grand design kami bisa digunakan bupati untuk 5 tahun ke depan, apa yang akan dilakukan tahun 2017 hingga 2021,” imbuhnya.
Untuk enam bulan ke depan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata punya program awal, yakni pengembangan kawasan Bromo, sehingga semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) bisa bersinergi.
“Yang perlu diketahui adalah 3 A. Pertama, Atraksi, dalam hal ini kebu-dayaan, seperti tarian. Kedua, Amanitas, yakni kawasan yang mendukung seperti rumah sakit, stasiun, bandara dan sebagainya. Ketiga, aksessibilitas, seperti jalan,” kata Made.
Apa yang dibutuhkan Disbudpar terkait dengan pengembangan BTS? “Yang jelas kami butuh signal HP, air bersih, tempat sampah, pembinaan lingkungan, jalan alternatif, rest area, papan penunjuk arah dari Lawang menunu BTS dan JLS, dan sebagainya. Dengan adanya jalur alternatif, diharapkan wisatawan yang akan pergi dan pulang dari Bromo ke Gu-bug Klakah, tidak satu arah,” jawab Made.
“Tegasnya, pembangunan pariwi-sata di Kabupaten Malang dilakukan dengan sistem keroyokan. Semua SKPD turun bersama-sama, konsentrasi membangun di satu kawasan. Untuk tahun ini, kawasan yang akan digarap adalah kawasan menuju BTS, yakni Desa Wisata Gubug Klakah, Kecamatan Pon-cokusumo. Jadi, semua SKPD bersinergi membangun pariwisata,” tegasnya.
Ini sesuai dengan pernyataan Bupati Malang, Dr. H. Rendra Kresna. “Sekarang tidak boleh ada ego sektoral, ego satuan kerja. Semua harus bekerja bersama-sa-ma untuk kemajuan Kabupaten Malang,” katanya di Ungapan, beberapa waktu lalu.
Made menambahkan, anggaran pari-wisata tahun ini memang besar. Tapi tidak di Disbupar, namun di semua SKPD, seperti untuk pembangunan infrastruktur jalan ada di Bina Marga, rambu-rambu lalulintas ada di Disas Perhubungan dan sebagainya.
“Sedangkan tugas Disbudpar akan mengemas atraksinya. Kami akan bentuk suatu tarian, entah itu kolosal atau apa na-manya, yang akan menjadi ikon Kabupaten Malang seperti Kecak di Bali. Kami juga buat grand design untuk program 2017 – 2021. Kami juga akan lakukan promosi,” jelasnya.
Sekarang, Disbupar bersama BPPD sedang mengemas program. Dalam 6 bulan ini yang akan diangkat adalah Gubug Klakah dan akan mengemas JLS. Dananya akan diajukan pada Perubahan Anggaran Keuangan (PAK). “Untuk JLS misalnya, bagaimana caranya kita buat satu pantai itu terintegrasi,” katanya.
Perhatian Disbudpar tidak hanya di sektor pariwisata, tapi juga budaya. Belum lama ini Bupati Malang mengadakan kunjungan ke Singaraja, Bali. Hasilnya, ternyata ada sejarah Kerajaan Singsari yang mengarah ke Singaraja sampai ke Peru.
Karena itu, pada September 2016, bupati akan membuat Indonesia Pusaka Festival, kerjasama dengan Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Promosi Pusaka Indo-nesia, dan asosiasi musium. Nanti juga ada Festival Benda-benda Pusaka, baik yang berbentuk maupun tidak berbentuk.*