Pelajar, Potensi Pasar Narkoba

Bahaya narkoba benar-benar sudah mengancam semua generasi. Tidak hanya orang itu. Anak-anak hingga remaja pun sudah menjadi sasaran para pengedar. Bahkan, pelajar di tingkatan menengah atas (SMA/SMK) adalah sasaran empuk para pengedar. Karena itu tak heran bila Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Buwas Suseso menegaskan bahwa bahaya narkoba lebih parah dari pada teroris.

 

Pelajar peluang pasar besar peredaran narkoba.
Awas! Pelajar menjadi peluang pasar yang paling besar untuk peredaran narkoba.

KEPALA BNN Kota Malang, Jawa Timur AKBP Basuki Effendi mencatat, salah satu jenis narkoba yang harus diwaspadai di kalangan pelajar adalah jenis LL (pil koplo). Sebab, selain mudah didapat, harga pil ini pun relatif terjangkau di kalangan siswa. “Hanya Rp 1.000 per biji,” katanya.

Terbukti, saat jajaran Polsek Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur menangkap seorang pengedar yang baru berusia 17 tahun, dia mampu membawa 100 biji yang sudah dikemas dalam bungkusan plastik siap edar. Harganya pun murah. Hanya Rp 1.000 per biji.

Ironisnya, pengedar yang masih dalam kelompok remaja ini, punya trik sales (penjualan) yang bagus. Awalnya, dia hanya memberikan secara cuma-cuma kepada calon korbannya. Semacam tester. Kalau sudah ketagihan, baru disuruh membeli. Sebuah teori dagang yang cukup brilian.

Kondisi yang hampir serupa juga terjadi di Kota Batu. BNN setempat mencatat, hingga saat ini telah melakukan rehabilitasi terhadap 121 pelajar. Mereka berasal dari semua tingkatan, mulai usia SD sampai SMP.

Kasi Penindakan dan Pencegahan BNN Kota Batu, AKP Edi HK belum lama ini mengatakan, rehabilitasi tersebut merupakan permintaan dari guru dan orang tua yang bersangkutan.

“Guru dan orang tua mereka sukarela menyerahkan siswa atau anaknya untuk direhabilitasi, diterapi dan dilakukan pembinaan oleh BNN agar mereka sadar dan menjauhi bahaya narkoba,” jelasnya usai memberikan penyuluhan bahaya narkoba di SMAN 2 Kota Batu, Senin, (1/2/2016).

Data BNN Kota Batu menyebutkan, ada sekitar 4.200 pelajar, mulai tingkat SD hingga SMA yang terlibat narkoba. Keterlibatannya karena kurangnya pengawasan dari orang tua sehingga para pelajar tersebut di luar jam sekolah menggunakan waktunya untuk bermain. Di antaranya, bermain play station (PS) hingga melihat tayangan tak seno-noh. Selanjutnya, mereka mencoba menggunakan narkoba. Dari 121 pelajar tersebut, awalnya tidak tertarik menggunakan narkoba, tapi karena ajakan terus-menerus, akhirnya terjerumus.

Sementara itu, Kapolres Batu AKBP Leonardus Simarmata mengatakan, pihaknya akan melakukan sosialisasi mengenai bahaya narkoba tersebut pada pelajar sebagai upaya meminimalisir peredaran narkoba. “Kita tetap melakukan penindakan terhadap pengguna narkoba bekerjasama dengan BNN Kota Batu serta pihak sekolah,” terangnya.

Sama dengan penjelasan Kepala BNN Kota Malang, menurut Kapolres Batu, para pelajar yang terlibat kasus narkoba, rata-rata menggunakan pil koplo jenis double L, yang harganya relatif murah dan terjangkau untuk para pelajar.
Melihat begitu rentannya peredaran narkoba di kalangan pelajar, BNN Kota Malang pun melakukan sosialisasi ke seluruh lembaga pendidikan. Seperti di SMAN 9 Kota Malang yang berada di kawasan Puncak Borobudur. Belum lama ini, sekitar 600 pelajar diberi penyuluhan tentang bahaya narkoba.

“Ini penting. Karena pelajar menjadi sasaran empuk pengedar,” tegas Basuki Effendi.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *