Pedagang Sayur Tidak Laku di Kampung Rolas Sanankerto

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Sempat menjadi program nasional di tahun 2014, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) hampir tidak jalan. Namun tidak untuk warga RT12/RW 03 Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Empat tahun mengembangkan KRPL, kampung ini masuk tiga besar dalam Lomba KRPL 2018 tingkat Provinsi Jawa Timur.

 

 

Suasana RT 12/RW 03 Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang asri berkat penerapan KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari).

DITEMUI di Kampung Rolas —demikian warga RT 12/RW 03 Sanankerto menyebut kampungnya—  Sekretaris Desa Sanankerto, Sugiono menceritakan, tidak mudah menjadikan Kampung Rolas tetap mempertahankan KRPL di lingkungannya.

“Berawal dari program nasional di tahun 2014,  kemudian kami berusaha mempertahankan sampai sekarang. Tidak mudah dan butuh kesabaran untuk membina warga agar mau menanami pekarangan atau halaman rumahnya dengan berbagai tanaman sayuran maupun buah,” terang Sugiono, Kamis (06/09/2018).

Pencetus pertama kali gerakan KRPL adalah Ketua RT 12 Desa Sanankerto, Sutris. “Memang sempat vakum. Namun seiring dengan berkembangnya taman wisata Andeman, Bonpring, KRPL di Kampung Rolas digalakan kembali. Dan, kemarin, mendapat tempat 3 besar dalam lomba KRPL tingkat provinsi,” kata Sugiono.

Sebanyak 30 kepala keluarga (KK) yang mendiami Kampung Rolas tidak rela ada sejengkal tanah yang menganggur. Mulai dari halaman, pekarangan, dan tepian jalan desa, ditanami  berbagai macam sayuran. Seperti selada, bunga kol, brokoli, daun bawang,lobak, kangkung. Semua  ditanam menggunakan polibag.

“Banyak keuntungan yang kami peroleh dengan menerapkan KRPL. Selain lingkungan menjadi asri dan sehat, dengan kegiatan sambilan ini, pendapatan keluarga juga meningkat. Per hari bisa mencapai Rp 50 ribu dari berjualan sayur,” jelas Sugiono.

Sunardi dan Ketang, warga Kampung Rolas mengamini pernyataan Sugiono. “Benar, dengan menerapkan program ini, kesejahteraan kami meningkat. Kami tidak perlu belanja sayuran lagi. Bahkan mendapat penghasilan yang lumayan dari kegiatan sambilan ini, tanpa meninggalkan pekerjaan utama kami,” kata Sunardi.

Bahkan,  menurut Ketang, tidak ada lagi mlijo (tukang sayur keliling) di Kampung Rolas. “Tidak ada lagi mlijo. Mereka gak laku di sini. Bahkan mereka akhirnya yang membeli sayuran segar kami,” ujarnya sambil terkekeh.

Dengan produksi yang berlimpah, warga Kampung Rolas mengaku tidak kesulitan untuk memasarkan sayurannya. “Para pedagang yang langsung datang kemari. Justru kami yang kesulitan memenuhi permintaan mereka. Mereka merupakan pedagang Pasar Gadang, Batu bahkan Purwodadi,” terang Sugiono.

Bahkan,  jika Pemkab Malang atau ada dinas yang mengadakan acara,  seperti pameran, sayuran yang masih lengkap dengan polibagnya dipesan dari Kampung Rolas. “Seperti di Expo Pembangunan 2018 di Kanjuruhan kemarin, banyak stand dinas yang memesan ke kami. Per polibag, untuk sayuran yang sudah besar dan ada buahnya, seharga Rp 10 ribu. Kalau masih kecil Rp 7 ribu. Tinggal menghitung berapa polibag yang dipesan,” ujar Sugiono tersenyum.

Melihat potensi yang besar dari Kampung Rolas, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang tidak tinggal diam. “Dari Pemkab Malang, melalui DTPHP, kami mendapat bantuan green house untuk pembibitan di samping bantuan pembinaan teknis lainnya,”jelas Sugiono.

Namun menurut Sekdes Sanankerto, warga Kampung Rolas masih mempunyai satu kendala, yakni air untuk menyiram aneka rupa sayuran itu. “Warga butuh fasilitas pompa air untuk menyiram tanaman. Sampai sekarang itu belum terpenuhi,” tandas Sugiono.

Ke depan,  Sugiono berharap,  semua warga Sanankerto bisa mencontoh apa yang dilakukan warga Kampung Rolas. “Kalau bisa semua Sanankerto menjadi Kampung Rolas. Kan bagus, kampung menjadi asri, sayur tidak usah beli, pendapatan naik,”pungkasnya.  (diy)