Pawai Budaya di Pantai Ungapan, Diikuti 8.000 Orang, Disaksikan 30 Ribu Penonton

Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna ikut menari saat pawai budaya di MBF Pantai Ungapan, Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Lebih dari 8.000 orang mengikuti pawai budaya yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (29/09/2018) siang, di  Pantai Ungapan, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan. Kegiatan yang diselenggarakan dalam Malang Beach Festival (MBF) ini sebagai rangkaian hari jadi Kabupaten Malang ke-1258 tahun.

 

MENGAMBIL lokasi di jalur lintas selatan JLS), pawai budaya diberangkatkan pukul 10.00 WIB dari Pantai Bajulmati menuju Pantai Ungapan dengan jarak tempuh hampir mencapai satu kilometer. Tiga hari sebelumnya, pawai budaya yang diikuti 33 kecamatan se Kabupaten Malang dan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang ini, sudah dipersiapkan. Sejumlah mobil hias disiagakan di sepanjang JLS menuju Pantai Bajulmati.

Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna bersalaman dengan peserta egrang saat pawai budaya di MBF Pantai Ungapan, Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Belasan ribu warga  dari Malang Raya maupun luar Malang, tampak memenuhi sepanjang jalan yang digunakan sebagai rute pawai. Bahkan kemacetan tidak terhindarkan sejak sebelum Pantai Bajulmati.

Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna dan Ketua PKK Ny. Hj. Jajuk Rendra Kresna menyaksikan pawai budaya di MBF Pantai Ungapan, Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Kepada awak media, Ketua Pelaksana MBF 2018, Nurcahyo, menyampaikan, beberapa minggu sebelumnya, pihaknya banyak mendapat pertanyaan dari masyarakat, kapan pawai budaya akan diselengarakan. “Hal itu menujukan bahwa perhatian masyarakat terhadap acara ini begitu tinggi. Jika dilihat dari kepadatan arus lalu lintas, itu membuktikan jika animo masyarakat begitu besar. Yang kita harapkan memang seperti itu,” katanya.

Inspektur Inspektorat Kabupaten Malang, Jawa Timur, Dr. Tridiyah Maestuti mendampingi timnya dalam Pawai Budaya dalam gelaran MBF 2018 di Pantai Ungapa, Gedangan, Kabupaten Malang.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang ini menambahkan, dengan tingginya antuasiasme masyarakat yang menonton pawai budaya, diharapkan  multiplier effects dari kegiatan yang sudah tiga kali dilakukan ini bisa mensejahterakan masyarakat sekitar.

“Kan banyak para pedagang yang berjualan. Jika satu orang yang menonton membelanjakan uangnya —katakanlah—  minimal senilai Rp 5 ribu, berapa rupiah perputaran uang untuk hari ini di tempat ini? Jumlah penonton kami perkirakan naik dari tahun sebelumnya, kurang lebih 30 ribu orang. Tujuan kegiatan ini,  di samping sebagai promosi wisata dan hiburan,  juga untuk meningkatkan kesejahteraan warga lewat multiplier  effects yang timbul,” jelas Nurcahyo.

Selain animo masyarakat untuk menonton yang tinggi, jumlah peserta untuk Pawai Budaya MBF 2018 juga mengalami lonjakan tajam. “Tim yang ikut pawai secara resmi ada 74 dan ada 8 sebagai tim tamu, salah satunya berasal dari Kota Malang dan Kediri. Total untuk jumlah personil peserta yang ikut dalam pawai kali ini 8 ribu orang,” papar Nurcahyo.

Menariknya,  dalam agenda wisata Kabupaten Malang ini, penutupanya ditandai dengan kejuaraan internasional paralayang di Pantai Modangan, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. “Dari 20 kegiatan yang diselengarakan di MBF 2018, penutupannya nanti di Pantai Modangan, akan ada kejuaran internasional paralayang yang akan diikuti atlet internasional. Ini yang membedakan pelaksanaanm MBF 2018. Tahun lalu memang sudah ada, namun bersifat eksibisi. Tahun ini kejuaraan resminya,” terang Ketua Pelaksana MBF 2018.

Dengan mengusung tema isu lingkungan, budaya, serta creative carnival costum, para peserta rela berpanasan, berjalan kaki menuju Pantai Ungapan. Bahkan dua orang Kepala OPD, Dr. Tridiyah Maestuti yang merupakan Inspektur Inspektorat Kabupaten  Malang dan Ir. Endang Retnowati, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten  Malang, rela berjalan kaki di bawah teriknya matahari untuk mendampingi timnya. “Mereka, para staff dari Inspektorat, sepakat untuk berjalan kaki, Sesuai komitmen, saya ikut berjalan kaki juga,”seru Tridiyah, bersemangat.

Berbagai kreasi kostum karnaval, baik yang dari daur ulang maupun berbahan mahal dikenakan para peserta. Pun atraksi budaya ditampilkan, seperti pencak silat, kuda lumping, dan barongan. Bahkan nampak ada satu peserta yang membatik di atas mobil hias yang sedang berjalan. (diy)