Pasar Klojen dan Bunulrejo Disulap Jadi Pasar Tradisional yang Modern

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Sukses merevitalisasi Pasar  Oro Oro Dowo menjadi pasar tradisional yang  modern,  Pemerintah Kota Malang,  Jawa Timur,  segera menyulap Pasar Klojen dan Pasar Bunulrejo menjadi pasar modern yang tradisional.

 

Eko Sya, Kabid Pengelola Pasar Rakyat Dinas Perdagangan Kota Malang, saat meninjau Pasar Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.

Bahkan pasar modern ini diusulkan dalam Standart Nasional Indonesia (SNI) Pasar Tradisional Modern. Saat ini, satu satunya di Jawa Timur pasar ber SNI hanya Pasar Oro Oro Dowo.

Selain Pasar Klojen, Pasar Bunul juga akan diperlakukan sama. “Setelah Pasar Oro – Oro Dowo, Pasar Klojen akan segera direvitalisasi. Pengosongan pasar dimulai H plus 2 lebaran. Setelah itu, segera dimulai pembangunan. Lokasi relokasi kami siapkan di depan pasar,  Jl. Cokroaminoto dan Jl. Dr Sutomo,” tutur Eko Sya, Kepala Bidang Pengelola Pasar Rakyat pada kantor Dinas Pasar dan  Perdagangan Kota Malang, saat ditemui   di Pasar Klojen, Kamis (24/05/2018).

Eko menambahkan, revitalisasi itu akan mengubah fisik pasar mulai dari dasar sampai atap. Hal itu sudah disosialisasikan kepada para pedagang serta koordinator pasar. Namun, untuk bangunan kuno peninggalan jaman penjajah, khususnya di bagian depan,  akan tetap dipertahankan sebagai bangunan heritage.

“Jumlah pedagang di Pasar Klojen ada 211 pedagang. Yang terkena relokasi ada 86 pedagang. Setelah lebaran, dimulai pembangunan. Akhir tahun 2018 ini, sudah bisa ditempati kembali,” lanjut Eko.

Kebijakan revitalisasi ini, menurut Eko, sesuai dengan instruksi pemerintah pusat terkait program revitalisasi 1.000 pasar rakyat di Indonesia. “Ini sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.

Ia mengaku, Pasar Oro-Oro Dowo, sekarang menjadi pilot project pasar tradisional. Di sana sudah dilengkapi CCTV, troli, pos kesehatan, keamanan serta jalanan yang lebar.

Pedagang di Pasar Pasar Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.

Ketua Paguyuban Pasar Klojen, Djarwoko (60) bersama para pedagang lainnya, mengaku sudah siap dan menyambut baik ide Dinas Pasar dan Perdagangan tersebut. “Kami sudah siap, tidak ada masalah. Kami tambah senang, apalagi ini gratis. Biar tidak kumuh, dan bisa bersaing dengan mall,” tutur Djarwoko yang sudah berada di Pasar Klojen sejak tahun 70 an.

Sementara itu, Kepala Dinas Pasar dan Perdagangan Kota Malang, Wahyu Setiyanto mengatakan, untuk  revitalisasi Pasar Bunulrejo, diperkirakan menelan anggaran Rp 6 miliar. Sumbernya  dari dana tugas pembantuan Kementerian Perdagangan. “Sedangkan revitalisasi Pasar Klojen berasal dari APBN, melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Perdagangan,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Pasar Bunul dan Pasar Klojen nantinya dibangun dengan mengadopsi desain Pasar Oro-Oro Dowo, Kota Malang. Yakni berupa pasar induk berbentuk bangunan terbuka dengan pilar-pilar tinggi dengan menggunakan konstruksi baja.
Dengan begitu, sirkulasi udara di pasar menjadi lebih lapang dan pasar menjadi  tidak pengap.

“Meskipun berkonsep modern, menggunakan troli, namun masih ada tawar-menawar. Jadi masih ada  interaksi antar penjual dan pembeli,” pungkasnya. (ide)