Pantai Tanjung Sirap, Wisata Konservasi Yang Menawan

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sisi selatan, Kabupaten Malang, Jawa Timur dianugerahi bentang pantai sepanjang sekitar 105 km. Beberapa di antaranya sudah menjadi kawasan wisata, bahkan menjadi ikon Kabupaten Malang. Namun tak sedikit pula yang baru dibuka. Salah satunya Pantai Tanjung Sirap (Tanjung Sirap Beach) di Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

 

 

Menikmati keindahan senja di Pantai Tanjung Sirap, Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

BERDASARKAN penelusuran wartawan TABLOIDJAWATIMUR. COM, Minggu (16/09/2018),  butuh waktu sekitar dua jam jika menempuh perjalanan darat dari Kepanjen, Ibu Kota Kabupaten Malang, untuk sampai di kawasan Pantai Tanjung Sirap.

Perjalanan menempuh hutan mangrove untuk menuju   Pantai Tanjung Sirap, di Desa Sumber Bening,  Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Sesampai di perempatan JLS (Jalur Lintas Selatan) Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, pengunjung bisa memilih dua jalur alternatif untuk menuju Pantai Tanjung Sirap. Pertama, berbelok ke arah kanan, menuju  Pantai Kondang Merak, satu kilometer kemudian berbelok ke kiri, menuju Pantai Tanjung Sirap.

Pantai Pulau Penyu di Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tak kalah menariknya dengan wisata pantai lainnya.

Pilihan kedua, terus lurus menuju Pantai Balekambang. Dari Pantai Wisata Balekambang, diteruskan dengan berjalan kaki ke arah barat. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, wisatawan  sampai di Pantai Tanjung Sirap.

Di kawasan Pantai Jembatan Panjang Tanjung Sirap Beach yang masuk wilayah Desa Sumber Bening ini, ada beberapa spot wisata. Di antaranya, Sumur Pitu, sebuah tempat wisata ritual. Pantai Weden Ciut, Pantai Rowo Gebang, Pantai Pulau Penyu, dan Tanjung Sirap.

Dari Sumur Pitu, pengunjung harus berjalan kaki membelah rimbunnya vegetasi mangrove. Pantai pertama yang akan ditemui adalah Pantai Weden Ciut. Dengan pesona deburan ombak besar, khas Samudera Hindia, di pantai yang menyerupai cerukan,  pengunjung akan dimanjakan dengan hamparan pantai berpasir putih dengan suasana yang masih alami.

Bergeser sedikit ke arah barat, akan dijumpai kawasan rawa yang banyak ditumbuhi pohon gebang (Corypha), sehingga kawasan tersebut oleh masyarakat sekitar dinamakan Pantai Rowo Gebang.

Dengan berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit, pengunjung akan sampai di Pantai Pulau Penyu. Dinamakan Pulau Penyu,  karena menurut keterangan warga sekitar, pantai tersebut merupakan habitat alami penyu. “Jika beruntung, di pagi atau sore, pengunjung bisa mendapati satwa berumur panjang yang dilindungi  tersebut di Pantai Pulau Penyu,” kata Solihin, warga setempat.

Hanya itu sajakah? Tidak. Di ujung paling barat, terdapat Pantai Tanjung Sirap. Pantai berpasir putih, berpadu pecahan batu-batu karang. “Inilah tujuan utama wisatawan. Ini adalah spot paling bagus untuk menyaksikan matahari terbenam,” kata Muhlis, salah satu wisatawan yang datang ke tempat tersebut.

Sinar temaram senja dengan gemerisik daun pandan atau pudak laut (Pandanus ordorifer) yang diterpa angin laut, menciptakan suasana romantis, sehingga langsung menghilangkan penat setelah berjalan kaki kurang lebih 30 menit menerabas hutan.

Dengan kondisi kawasan pantai yang masih alami, dan hutan mangrove yang masih rapat, kawasan Pantai Tanjung Sirap sangat cocok untuk dijadikan wisata pantai berbasis konservasi, tanpa merubah suasana pantai, apalagi sampai menebang pohon hutan mangrove, sehinga keanekaragaman hayati tetap terjaga.

Di kawasan Pantai Tanjung Sirap, pengunjung akan mendapati tiga spot pantai dengan eksotisme pemandangan yang berbeda dan sensasi berpetualang di dalam hutan, suatu hal yang begitu terasa mahal didapat saat ini.  Dan, ini adalah nilai jual tersendiri yang bisa menjadikan  kawasan Tanjung Sirap berbeda dengan wisata pantai  lainnya.

Untuk menjadikan kawasan Pantai Tanjung Sirap sebagai kawasan wisata pantai konservasi, tentu bukan hal mudah. Perlu ketegasan dari Pemerintah Kabupaten Malang dan masyarakat sekitar untuk tetap menjaga kelestarian wisata Tanjung Sirap. Karena, dimana ada tempat wisata baru muncul, disana pula masyarakat akan berusaha mencari rejeki dengan berjualan maupun hal lainnya yang bisa mendatangkan rupiah.

Hal itu bisa difasilitasi Pemerintah Kabupaten Malang dengan melokalisir para pedagang hanya berjualan di kawasan Sumur Pitu atau di Pantai Jembatan Panjang, sebagai pintu masuk ke kawasan Tanjung Sirap. Selanjutnya, begitu masuk areal konservasi di Pantai Tanjung Sirap, pemerintah harus tegas melarang masyarakat melakukan aktivitas perekonomian jual beli.

Jika masyarakat Desa Tumpakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, bisa menjadikan Pantai Tiga Warna sebagai pantai wisata konservasi, masyarakat Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang  seharusnya juga bisa menjadikan kawasan Pantai Tanjung Sirap sebagai pantai wisata konservasi.

Sebab, di Pantai Tiga Warna yang berada di Desa Tumpakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, meski pantai tetap dibuka untuk dijadikan obyek wisata, namun kondisi pantai tetap dibiarkan apa adanya, tanpa campur tangan manusia untuk merubahnya. Untuk tetap menjaga kelestarian pantai, jumlah pengunjung pun dibatasi.

Bahkan, sebelum masuk ke kawasan Pantai Tiga Warna, setiap pengunjung diperiksa bawaannya. Tujuannya, agar wisatawan tidak meninggalkan sampah berupa bungkus makanan. Jadi, semua sampah yang berasal dari pengunjung dibawa pulang kembali. (herdiyan)