Memasuki Musim Tanam, KP3 Lakukan Rakor dan Evaluasi

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Memasuki musim tanam, Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) melakukan rapat koordinasi dan evaluasi di Pendopo Kabupaten Malang, di Jalan KH. Agus Salim, Selasa (27/11/2018).

 

 

Plt. Bupati Malang, Drs. HM. Sanusi, M.M saat membuka rakor dan evaluasi KP3 di Pendopo Kabupaten Malang.

DIBUKA oleh Plt. Bupati Malang, Rakor dan evaluasi KP3 dihadiri juga oleh perwakilan produsen dan distributor pupuk dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) se Kabupaten Malang.

Dalam sambutannya Plt. Bupati Malang mengatakan bahwa memasuki musim penghujan, disertai dengan dimulainya musim tanam oleh petani. “Untuk itu saya minta kepada para produsen serta distributor pupuk dan insektisida agar mencukupi kebutuhan petani,” tegas Sanusi.

“Jangan sampai terjadi kekurangan, jika itu terjadi maka produsen dan distributor harus menalanginya,” imbuh Plt. Bupati.

Selama ini, menurut Sanusi, ketersediaan pupuk selalu kurang di kalangan para petani. “Padahal setiap tahunnya permintaan selalu meningkat hal itu sudah berdasar RDKK, namun realisasi selalu tak sampai pada angka permintaan,” kata Sanusi.

Memang kalau dilihat dari distribusi selama ini tidak pernah terpenuhi oleh Distributor, seperti pada tahun 2018 untuk semua jenis pupuk sesuai RDKK sebanyak 166.090. Namun yang terpenuhi hanya sebesar 101.074,69 (60,86%). Demikian juga dengan pelaksanaan pada tahun 2017, juga tidak terpenuhi kebutuhan pupuk para Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) kebutuhan sebanyak 161.478,00 namun yang terealisasi hanya sebanyak 105.830,10 (65,54%).

Memang beberapa waktu silam, Sanusi mengakui jika ada penyimpangan distribusi pupuk, namun hal itu sudah berhasil diatasi. “Rakor dan evaluasi ini untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, kalau distribusi pupuk saat ini sudah tidak ada kendala,”tegasnya.

Lebih lanjut untuk mewujudkan swasembada beras, Pemkab Malang berniat mengimpor bibit padi hybrida dari Thailand. Dimana bibit tersebut dinilai mampu menghasilkan 15 ton dalam setiap hektarnya, sementara saat ini produktifitas yang ada hanya sampai pada 8 ton/ha.” Jika hal ini berhasil nantinya swasembada pangan secara nasional akan terpenuhi,” jelasnya.

Namun yang paling penting, tambah Sanusi, bahwa untuk bibit jenis hibrida yang dari Thailand itu nanti, para petani bisa membuat bibit sendiri, dari bibit padi hybrida Thailand.

“Bibit itu nantinya langsung diserahkan kepada petani, bukan melalui pengusaha, namun dibawah pengawasan dan binaan Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan, sehinga petani bisa mengembang biakan bibitnya sendiri,”tutup Sanusi. (diy)