Masuk Pasar Jaafaria Serasa Berada di Pasar Tradisional Indonesia

MAKKAH, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Memasuki Pasar Jaafaria, sekitar 15 menit naik taksi dari kawasan Mahbas Jin –‘kawasan yang menjadi pusat tempat tinggal calon jamaah haji asal Jawa Timur selama di Makkah–‘ serasa memasuki pasar-pasar tradisional di Indonesia.

 

Situasi toko Indonesia di Pasar Jaafaria, Makkah.

 

BETAPA TIDAK. Meski berada di negara Arab Saudi, namun para pedagangnya mampu berbahasa Indonesia dengan lancar. Bahkan, mereka dengan lancar menawarkan barang dagangannya dengan bahasa Indonesia kepada para calon jamaah haji Indonesia yang sedang berbelanja di pasar tersebut.

Pedagang kaki lima di kawasan Mahbas Jin menawarkan barang dagangannya.

Tak jarang para oedagang yang sebagian orang India –ini saya ketahui saat mereka berbincang dengan temannya sesama pedagang– saling tawar-menawar harga dengan pembeli. Bahkan ptoses tawar-menawar pun berlangsung seru, layaknya di pasar-pasar tradisional Indonesia.

Para pembeli di Pasar Jaafaria, Makkah.

“Kalau mau belanja di sini, harus ditawar. Nawarnya pun harus 50% dari harga yang ditawarkan. Karena mereka nawarkan barang dagangan dengan harga tinggi, ” pesan Abah Muchsin dari Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur saat mengantar jamaahnya belanja, Minggu (04/08/2019) lalu.

Pesan Abah Muchsin memang tidak salah. Buktinya, saat saya membeli surban, oleh pedagang ditawarkan 35 real per lembar. Sempat terjadi tawar- menawar yang alot, hingga akhirnya saya berhasil memetik harga 15 Real per lembar atau sekitar Rp 60 ribu per lembar. Namun dengan cataran saya harus beli minimal 10 lembar. Akhirnya jadilah saya beli 10 lembar surban asal Makkah. Lumayan buat oleh-oleh.

Selain mampu berbahasa Indonesia dengan lancar, di pasar grosir yang memang banyak dikunjungi jamaah asal Asia, khususnya Indonesia dan Malaysia ini, juga terdapat toko yang bertuliskan Toko Indonesia dan Kedai Malaysia.

Rupanya, para pedagang di pasar ini tahu bahwa jamaah Indonesia dan Malaysia sangat banyak dan senang belanja. Karena itu mereka pun membuat label toko khusus untuk kedua negara tersebut.

Tidak hanya di Pasar Jaafaria. Di sejumlah toko di kawasan Mahbas Jin –mungkin juga di sejumlah daerah di Makkah— para pedagangnya mampu berbahasa Inonesia dengan lancar. Bahkan para pedagang kaki lima yang berjualan berbagai jenis pakaian, sepatu, jam tangan hingga handphone di seputaran hotel-hotel yang ditempati jamaah asal Inonesia, juga lihai berbahasa Indonesia. (rahmat – makkah)