TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Sintia Rahmah sedang beraksi.

Mahasiswa UMM Ini Punya 17 Medali, Tulang Hidung Pernah Patah

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Sintia Rahmah, salah satu atlit taekwondo yang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), Jawa Timur, sukses meraih 17 medali dari berbagai kompetisi, baik tingkat provinsi sampai internasioanal. Terbaru, Sintia memperoleh medali emas di kejuaraan Bandung Internasional E-Poomsae Tournament 2021.

 

Sintia Rahmah bersama sejumlah atlet taekwondo UMM lainnya.

 

SINTIA mengungkapkan, ia telah mendalami taekwondo sejak kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Pada saat itu, seni bela diri asal Korea ini sangat terkenal dan menjadi ekstrakurikuler di sekolahnya.

Sintia Rahmah sedang beraksi.

“Saya dasarnya memang anak yang aktif dan suka  olahraga. Sebelum ikut taekwondo, saya sempat ikut sepak bola. Namun ketika taekwondo makin terkenal, semua orang ingin mencoba olahraga ini. Bahkan kakak dan adik saya juga mendaftar taekwondo di sekolah masing-masing,” ujar mahasiswa asal Kalimantan Tengah ini, Kamis (26/08/2021).

Sintia Rahmah menunjukkan medali yang pernah ia raih.

Sejak saat itu, Sintia mulai menekuni taekwondo dengan serius. Ia mulai mengikuti berbagai perlombaan taekwondo, baik tingkat provinsi, nasional, sampai internasional. Apalagi saat menjadi mahasiswa di UMM, ia mengikuti berbagai kejuaraan. Ia pun seringkali memenangkannya, baik secara tim maupun individu. Sebut saja Bandung International E-Poomsae Tournament dan Online Indonesia International Biho President Cup yang ia raih pada tahun ini.

Mahasiswa Fakultas Hukum ini juga sempat cedera ketika mengikuti pertandingan. Saat itu pertandingan pertamanya sebagai  mahasiswa. Ia harus mengalami patah tulang di bagian hidung. Sintia harus menerima selama beberapa minggu agar bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

“Saat pertandingan saya bertemu dengan lawan yang lebih tinggi. Alhasil,  saya terkena pukulan di bagian hidung. Saat itu tulang hidung saya bengkok dan perlu perawatan dokter selama tiga minggu. Sampai sekarang pun hidung saya masih sensitif jika terkena sesuatu. Namun pengalaman tersebut tidak membuat saya berhenti dari taekwondo. Bagi saya cedera adalah salah satu konsekuensi seorang atlit,” kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Sintia mengatakan, dukungan orang tua sangat berarti baginya, membuatnya lebih semangat menekuni hobinya. “Saya akan berusaha sebaik mungkin agar bisa berkembang dan memperoleh medali di kejuaraan-kejuaraan selanjutnya. Dengan doa dan dukungan ayah dan ibu, akan memudahkan jalan yang saya tempuh,” pungkasnya. (div/mat)