TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM), Jawa Timur, Ammesti Paramitha, menampilkan tarian Xinjiang Meigui dan berhasil meraih juara keterampilan bakat seni dalam Kompetisi Bahasa Mandarin Chinese Bridge Internasional se-Indonesia 18 – 19 Juni 2021.

Mahasiswa UM Juara Chinese Bridge Internasional se-Indonesia

Mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM), Jawa Timur, Ammesti Paramitha, menampilkan tarian Xinjiang Meigui dan berhasil meraih juara keterampilan bakat seni dalam Kompetisi Bahasa Mandarin Chinese Bridge Internasional se-Indonesia 18 – 19 Juni 2021.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM), Jawa Timur, Ammesti Paramitha berhasil meraih juara keterampilan bakat seni dalam Kompetisi Bahasa Mandarin Chinese Bridge Internasional se-Indonesia 18 – 19 Juni 2021.

 

DALAM kompetisi yang dilakukan secara daring ini, penilaian mencakup ujian pengetahuan umum Tiongkok, lomba pidato dan tanya jawab, serta penampilan bakat setiap perserta.

Peserta Chinese Bridge ini berasal dari tiap provisi di Indonesia. Tiap provinsi mengirimkan 5 peserta. “Dua tahun lalu saya berhasil meraih juara harapan tingkat provinsi, sehingga belum lolos ke nasional. Tahun lalu,  ketika akan berangkat mewakili UM di tingkat provinsi, tidak terlaksana karena pandemi COVID-19,” katanya, belum lama ini.

“Baru  tahun ini,  ketika diminta mewakili UM di Chinese Bridge tingkat provinsi,  saya langsung menyetujui. Alhamdulillah bisa lolos ke tingkat nasional,” ujar Ammesti.

Piagam penghargaan juara Kompetisi Bahasa Mandarin Chinese Bridge Internasional se-Indonesia.

Mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2017 ini berhasil meraih juara bakat terbaik dengan menampilkan tarian Xinjiang Meigui.

Mengapa memilih tarian Xinjiang Meigui? “Menurut saya,  tarian Xinjiang Meigui mempunyai gerakan yang khas dan unik,  sehingga terlihat berbeda dengan tarian klasik China biasanya. Tarian ini juga ingin saya representasikan sebagai kaum muslim karena mayoritas penduduk Xinjiang juga muslim,” jawabnya.

Menurut Ammesti, ia sama sekali tidak menyangka akan meraih juara bakat seni terbaik,  karena peserta lain menampilkan bakat yang sangat memukau. Ditambah lagi kondisi yang serba terbatas membuatnya cukup kesulitan untuk mendapatkan bimbingan dari dosen pembimbingnya yang berada di China.

“Kesan setelah mengikuti Chinese Bridge Indonesia 2021 ini adalah mendapatkan pengalaman yang luar biasa dan memotivasi saya untuk selalu mengimprove kemampuan bahasa Mandarin, ” tutur Ammesti.

Ia juga meninggalkan pesan bagi mahasiswa/mahasiswi Indonesia untuk keluar dari zona nyaman dengan aktif mengikuti lomba,  untuk memaksimalkan kemampuan dan potensi diri.  (div/mat)