Mahasiswa ITS Produksi Gigi Tiruan Berbasis 3D Printer

SURABAYA, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Empat mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membuat sebuah inovasi terbaru di dunia kesehatan. Lewat startup bernama 3Dentist, mereka membuat bisnis yang bergerak di bidang produksi gigi tiruan berbasis 3D Printer.

 

Inilah para mahasiswa ITS yang membuat bisnis yang bergerak di bidang produksi gigi tiruan berbasis 3D Printer.

 

KEEMPAT mahasiswa tersebut, Naufal Prawironegoro, Hasan Basalamah, Dirvan Purnomo, dan Syarifatul Aisyah. Melalui inovasi ini, mereka membantu mengoptimalkan pengadaan gigi tiruan secara cepat dengan tetap memperhatikan keakuratan gigi tiruan yang dihasilkan.

Naufal Prawironegoro, ketua tim mengatakan, 3Dentist ini merupakan bisnis yang menjual produk gigi tiruan dengan material porselen dan akrilik yang pembuatannya menggunakan teknologi berbasis 3D printer. “Nama 3Dentist ini dipilih dari 3D untuk mewakili 3D printer dan dentist untuk mewakili gigi,” terangnya, Selasa (14/07/2020).

Mahasiswa Departemen Teknik Elektro ini menambahkan,  awal mula pembuatan startup ini berasal dari tugas kuliah yang mengangkat permasalahan orang tuanya yang kesulitan mencari laboratorium gigi untuk restorasi gigi. Sehingga terpikir untuk merealisasikan ide membuat startup yang bergerak di bidang produksi gigi tiruan yang dibuat dari 3D printer.

“Tentunya dengan harga yang jauh lebih murah dari teknologi sekarang ini dipakai yakni semi automatic CAD/CAM,” imbuh Naufal.

Keunggulan yang ditawarkan oleh 3Dentist adalah biaya produksi pembuatan gigi yang lebih murah, waktu pembuatannya cepat dengan hasil yang lebih rapi, presisi, dan akurat. Bahkan tingkat kedetailannya mencapai skala 10 mikron atau setara dengan 10^(-6) meter.

Naufal mengungkapkan, jika menggunakan 3Dentist, maka hasil yang didapatkan lebih cepat, bahkan dalam hitungan jam saja. “Karena jika dibandingkan dengan pembuatan secara manual di tekniker gigi itu bisa memakan waktu dalam hitungan hari dan harus sering melakukan kontrol ke dokter,” katanya.

Selain menggunakan material porselen dan akrilik, ke depannya produk ini akan terus dikembangkan dengan menjual gigi tiruan menggunakan material lain. Kemudian 3Dentist direncanakan juga akan menjual mesin 3D printer-nya, menjual resin,  membuka jasa maintenance,  dan perbaikan mesin 3D printer.

Untuk pengembangan startup, tugas  tim dibagi. Ada mahasiswa yang berperan sebagai business development untuk mengurus klien dan relasi ke investor. Ada hipster yang jago mendesain, mulai media sosial, pitch deck hingga proposal. Ada bagian teknis yang mengurus tentang operator mesin 3D, mulai perakitan proses cetak pemilihan, pembelian bahan, serta penelitian dan pengembangan untuk peningkatan kualitas produk.

Tantangan dalam pengembangan startup ini, tim memiliki latar belakang ilmu seperti elektro dan mesin, sehingga pengetahuan tentang gigi itu minim. Meski begitu, keempat mahasiswa ini mendapat bantuan dari dokter gigi yang memberikan transfer pengetahuan tentang alur kerja dari bisnis gigi tiruan.

Kendalannya, setiap orang memiliki karakteristik gigi yang berbeda. Karena masih belum banyak pengalaman, sehingga Naufal dan tim masih terus belajar tentang kondisi gigi yang dibutuhkan pasien. “Mulai dari kekerasan tekstur gigi hingga pewarnaan yang sesuai,” jelas Naufal.

Untuk proses pembuatan gigi tiruan ini dimulai dengan memindai 3D lalu file yang didapatkan dikonversikan dalam format .stl. Kemudian diunggah ke mesin yang sudah siap untuk mencetak dengan bahan yang telah disiapkan seperti porselen. Lalu mengatur pengaturan melalui software slicing 3D. Jika sudah kemudian dicetak. “Setelah selesai, dilakukan finishing dengan menggunakan bahan cleansing,” jelasnya lagi.

Startup yang bisa diakses lewat 3dentist-info.com ini sudah diakui secara nasional. Terbukti ketika berkompetisi dalam lomba bisnis bertajuk Win Your Future, 3Dentist menyabet juara ketiga kategori universitas pada awal bulan Juli lalu. Naufal Prawironegoro bersama  Hasan Basalamah berhasil mengenalkan startup-nya dalam kompetisi yang diadakan oleh Universitas Prasetya Mulya.

Harapannya inovasi ini bisa segera menetap, karena tim masih menyesuaikan produk hingga mencapai Minimum Viable Product (MVP) agar bisa diterima klien. “Yakni hingga mendapat produk baru dengan fitur yang sangat sederhana tetapi mampu memberikan hasil maksimal untuk klien,” pungkasnya. (ang/mat)