TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Arina Restian, S.Pd., M.Pd., bersama salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, menunjukkan buku hasil karya para mahasiswa PPG UMM.

Luncurkan 22 Buku, PPG UMM Ajak Guru Produktif Menulis

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur, melaunching 22 buku hasil karya mahasiswanya, Rabu (10/03/2021) bersamaan dengan yudisium mahasiswa PPG UMM.

 

Arina Restian, S.Pd., M.Pd., bersama salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, menunjukkan buku hasil karya para mahasiswa PPG UMM.

 

ARINA Restian, S.Pd., M.Pd., penanggung jawab PPG  menjelaskan, program menulis bagi mahasiswa yang diadakan Prodi PPG bertujuan untuk melengkapi kemampuan para wisudawan, utamanya dalam hal menulis. “Seyogyanya setiap pengajar profesional dapat menulis dengan baik hingga mampu mencetuskan sebuah karya.  Sebab tidak banyak pendidik yang memiliki skill ini. Padahal menulis merupakan hal yang penting bagi mereka,” katanya.

Arina menambahkan, inisiatif program menulis  tersebut berawal dari idenya yang ingin agar guru profesional juga bisa menelurkan karya. “Saya ingin mengajak dan mendorong seluruh elemen pengajar profesional agar mampu menulis dan menjadi contoh bagi anak-anak didiknya,” ungkapnya.

Inilah sejumlah buku hasil karya para mahasiswa PPG UMM.

Sebanyak 22 buku memiliki berbagai tema yang sudah ditentukan. Ada yang  berisi tentang pengembangan media pembelajaran,  ada  yang membahas  penguatan karakter serta pendidikan karakter di Indonesia.

Meski begitu  Ariana akui komitmen menulis menjadi kendala dalam penyusunan buku-buku tersebut. “Tentu saja semua agenda menemui kendala. Begitu pun dengan penyusunan karya-karya ini. Namun jika kita memiliki komitmen yang kuat, kendala-kendala yang ada akan lebih mudah dihadapi,” akunya.

Sementara itu, salah satu penulis  buku, Nanang Fauzi mengatakan,  program ini bisa menjadi nilai positif, khususnya bagi para wisudawan. Ia juga menemui berbagai kendala saat mulai menulis buku. Salah satunya adalah masalah referensi. “Saat itu karya yang saya tulis membutuhkan satu referensi penting. Namun sangat susah untuk mendapatkannya. Akhirnya saya mencari alternatif lain. Selain agar tulisan saya selesai, juga untuk menghindari rasa malas yang sering mampir,” ceritanya.

Nanang ingin agar buku-buku yang sudah dilaunching dapat memberikan manfaat lebih bagi para pembaca, khususnya bagi para pengajar. Usai dibaca, ide-ide yang tersemat di buku juga bisa diadopsi dan diterapkan dalam proses belajar-mengajar. Selain itu ia juga berharap karya tersebut mampu menjadi pelecut agar para pendidik lebih semangat dalam menulis dan menerbitkan buku.  (div/mat)