TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Ike Ummi Mahmudatul Atiqoh, lulusan terbaik dari Program Profesi Dokter Unisma pada wisuda ke-64 dengan IPK 3.7 mendapat reward dari kampus karena prestasi yang membanggakan.

Kuliah di Unisma, Dapat Ilmu Dunia dan Akherat

Ike Ummi Mahmudatul Atiqoh, lulusan terbaik dari Program Profesi Dokter Unisma pada wisuda ke-64 dengan IPK 3.7 mendapat reward dari kampus karena prestasi yang membanggakan.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Kuliah di Universitas Islam Malang (Unisma), Jawa Timur, tidak hanya dapat ilmu umum (dunia), tapi juga ilmu agama (akherat). Ini dirasakan Ike Ummi Mahmudatul Atiqoh, lulusan terbaik dari Program Profesi Dokter pada wisuda ke-64 dengan IPK 3.7. Karena itu dia bersyukur dapat menuntut ilmu di kampusnya para ulama ini.

 

“DI SINI saya mendapatkan ilmu agama yang lebih. Jadi ketika selesai profesi dokter, kami bisa mengembangkan ilmu kami dan ilmu agama. Itu sangat membantu ketika sudah terjun ke masyarakat,” katanya, belum lama ini.

Salah satu wisudawati terbaik yang menerima reward dari Unisma ini menceritakan kesannya menempuh pendidikan di Unisma.  Dia sempat mengalami masa sulit ketika menjalani kuliah. “Saat ayah saya meninggal, saya harus berjuang membiayai biaya sehari-hari saat kuliah. Meski ada bantuan dari keluarga besar, namun saya tidak ingin merepotkan. Sambil kuliah saya kerja serabutan,” ceritanya.

Dengan perjuangannya itu, wanita asli Probolinggo  ini berhasil lulus dengan predikat “dengan pujian”.

Wisudawan terbaik Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Andri Jamaul Rifiyani,  yang lulus dengan IPK sempurna, 4.0 pun punya cerita menarik. “Saat kuliah,  saya pernah ikut pertukaran pelajar di Taiwan selama 1 semester. Saya  ambil mata kuliah linguistik. Selain itu sering ikut lomba menulis esai,” terangnya.

Wisudawan terbaik Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Unisma, Andri Jamaul Rifiyani, yang lulus dengan IPK sempurna, 4.0, mendapat reward dari kampus karena prestasi yang membanggakan.

Pemuda  yang akrab disapa Andri ini menceritakan keputusannya masuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. “Selepas lulus SMA,  saya tidak keterima SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Akhirnya saya ke Pare, Kediri,  belajar Bahasa Inggris. Dari situ saya ingin memperdalam ilmu dengan masuk jurusan ini,” tuturnya.  

Seperti diketahui, Universitas Islam Malang (Unisma), Jawa Timur,  terpaksa menggelar wisuda ke-64 secara daring (dalam jaringan).  Keputusan ini diambil mengacu pada SE (Surat Edaran) Wali Kota Malang Nomor 30 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan sebagai upaya Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 serta hasil voting yang disebar ke seluruh calon wisudawan/wisudawati.

Wakil Rektor I Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, MPd., Ph., D., menjelaskan,  sebenarnya wisuda periode ke-64 yang akan diikuti 1.401 mahasiswa/mahasiswi ini sudah siap dilaksanakan sejak pertengahan Desember 2020. “Awalnya kami sudah siap luring dengan mekanisme 4 kali tahapan. Hanya saja,  karena pandemi dan keluar SE dari pemerintah, maka kami harus mentaati dengan menunda wisuda periode 64,” katanya, Kamis (15/01/2021).

Tidak hanya itu. Pihak kampus memberikan pilihan kepada mahasiswanya yang akan mengikuti wisuda. Pilihan tersebut antara lain wisuda daring (dalam jaringan) yang bisa dilaksanakan secepatnya, atau wisuda luring (luar jaringan) yang baru bisa berlangsung setelah kondisi memungkinkan. “Dari hasil voting tersebut, ternyata mayoritas mahasiwa kami menginginkan wisuda daring.  Akhirnya kami atur mekanismenya dengan 1 kali pelaksanaan,” terangnya.

Junaidi menjelaskan, nantinya para wisudawan/wisudawati akan mengikuti prosesi wisuda di lokasi masing-masing. Namun tetap ada perwakilan masing-masing Prodi (Program Studi) yang hadir di tempat upacara. Pasalnya, rapat senat terbuka tetap dilaksanakan secara luring.

“Total mahasiswa kami yang akan mengikuti wisuda sebanyak  1401.  Dari jumlah itu, nanti ada 30 perwakilan tiap prodi yang mengikuti wisuda luring,  ditambah komponen senat, sehingga  total sekitar 50 orang yang mengikuti luring. Penyelenggaraannya di auditorium, yang berkapasitas 7.000 orang, namun hanya kami isi maksimal 50 orang, ” tandas Junaidi. (div/mat)