Kopi Lereng Bromo Ngadirejo, Mulai Menembus Pasar

Inilah kemasan kopi Lereng Gunung Bromo Ngadirejo.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Kabupaten Malang, Jawa Timur, memang dikenal punya segudang potensi perkebunan, salah satunya kopi. Bahkan, kopi dari Kecamatan Dampit yang dikenal enak, sudah dieskpor ke 28 negara. Namun tak hanya Dampit yang punya kopi.  Sejumlah kecamatan lainnya juga punya. Salah satunya Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung.

 

UNTUNGNYA, keberadaan kopi asal Ngadirejo ini didukung oleh status Ngadirejo sebagai desa wisata. Sehingga, perlahan namun pasti, produk kopi desa ini mulai berkembang dan pasarnya pun meluas. Bahkan, menurut Kepala Desa Ngadirejo, Mohammad Toib, sejumlah pedagang langsung datang ke desa ini untuk membelinya, sehingga petani tak perlu repot-repot menjual ke luar desa.

Warga Ngadirejo menunjukkan kopi asli Desa Ngadirejo yang sudah dikemas dan dijual bebas.

Sekitar tiga atau empat tahun lalu, barangkali tak banyak yang mengenal Desa Ngadirejo. Selain letaknya jauh dari pusat Kota Malang —sekitar 20 Km arah timur— lokasinya pun terpencil. Tapi sekarang, desa ini sudah terkenal, apalagi sejak ditetapkan menjadi Desa Wisata oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang sekitar tiga tahun lalu.

Bagi sebagian orang yang belum mengenal desa ini, ketika diajak ke sana,  tentu akan bertanya, ada apa dengan Desa Ngadirejo? Tapi, setelah datang ke lokasi dan mengetahuinya secara mendalam, tentu akan terpesona, karena banyak potensi asli pedesaan yang bisa didapat di desa yang berbatasan dengan Kecamatan Tumpang ini. “Salah satunya, kopi, cengkeh,  dan durian,” kata Toib, Selasa (29/10/2019) siang.

Kepala Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Moh. Toib.

Menurut Mohammad Toib, di desanya ada kebun kopi robusta dan arabika seluas  50 hektar, milik penduduk. Satu kali musim,  bisa panen 200 ton untuk 50 hektar. Soal harga, tak terlalu bagus. Karena keterbatasan alat, sehingga dipetik  hijau.

“Kalau punya alat dan tempat, sebetulnya petani ingin memproses sendiri. Kami butuh alat untuk memisah kulit dengan biji dan  alat untuk mengeringkan sekaligus melembutkan kopi. Semuanya  belum punya. Karena tak punya alat itu, akhirnya masyarakat ambil praktisnya saja, petik langsung jual dalam kondisi masih hijau,” jelasnya.

Petani kopi memetik kopi di perkebunan kopi milik rakyat di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari.
Petani kopi memetik kopi di perkebunan kopi milik rakyat di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Saat ini, harga petik hijau Rp 4.300 per kg. Yang merah Rp 4.700/kg. Menurut Toib, selisinyah hampir Rp 500/kg.  “Untungnya, kopi desa kami sudah ada yang ambil, sehingga  petani tak  perlu repot-repot jual  ke luar desa. Bahkan, kemarin ada pesanan, kalau sudah pisah kulit dengan isi, dia akan beli beberapa ton. Tapi kita tak bisa menyediakan karena alat terbatas,” jelas Toib seraya menambahkan  kopi Ngadirejo rasanya bisa diadu dengan kopi dari daerah lain.

Meski belum punya alat canggih, namun ada lima petani  yang memproduksi bubuk kopi meski  tak banyak. “Kopinya dijemur, disangrai, lalu  dijadikan bubuk. Diolah sendiri. Sudah dikemas dan dijual bebas. Tapi pasarnya hanya di Malang. Mereknya, Lereng Bromo Ngadirejo,” kata kepala desa.

Toib menambahkan, di desanya ada 700 petani kopi. Dari jumlah ini, 250 ikut kelompok tani Purnama 1 dan Purnama 2. “Ciri khas kopi desa kami ada kecut-kecutnya,  tapi tak membuat sakit maag (penyakit maag atau radang lambung atau tukak lambung adalah gejala penyakit yang menyerang lambung dikarenakan terjadi peradangan atau luka pada lambung yang menyebabkan sakit, mulas, dan perih di perut),” imbuhnya.

Selain punya kebun kopi dan cengkeh, di Ngadirejo juga ada kebun durian. Menurut Toib, durian khas Ngadirejo rasanya terkenal  manis dan lembut. “Waktu ikut festival durian di Ngantang dan Batu, durian kami tak kalah rasanya dengan durian dari daerah lain. Hanya saja  produk kami belum banyak, karena di sini hanya ada 10 ribu pohon  milik semua penduduk. Minimal satu penduduk punya 10 batang. Hasilnya dijual dengan harga  Rp 10 ribu per biji untuk yang kecil, tanggung Rp 20 ribu, ukuran  besar Rp 50 ribu per biji,” jelasnya.  (bri/mat)