TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Beginilah tampilan aplikasi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis cerita rakyat bernama Citra (Cerita Rakyat).

Khawatir dengan Pendidikan Karakter, Mahasiswa UMM Ciptakan Aplikasi Citra

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Pendidikan karakter harus diajarkan kepada anak sejak dini. Namun sayangnya terpaan sinetron maupun tontonan lain yang tidak sesuai usia, banyak menghalangi tumbuhnya karakter baik pada anak.

 

Beginilah tampilan aplikasi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis cerita rakyat bernama Citra (Cerita Rakyat).

 

MELIHAT hal tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan aplikasi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis cerita rakyat bernama Citra (Cerita Rakyat). Aplikasi ini diciptakan sebagai sarana membentuk karakter pada anak usia 7 – 18 tahun.

Tim peramu aplikasi ini terdiri dari tiga orang,  Nurliawati Dide, Syahrotul Latifah, dan Alvi Syauqie.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurliawati Dide, Syahrotul Latifah, dan Alvi Syauqie, ini menciptakan aplikasi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis cerita rakyat bernama Citra (Cerita Rakyat). Aplikasi ini diciptakan sebagai sarana membentuk karakter pada anak usia 7 – 18 tahun.

Dide menceritakan, ide pembuatan aplikasi ini berasal dari keresahannya terhadap tontonan anak yang tidak sesuai dengan usia anak-anak.

“Ketidaksesuaian tontonan dan usia anak ini menyebabkan anak jadi mencontoh perilaku buruk. Perilaku-perilaku buruk tersebut berupa perundungan,  pencurian, tawuran, hingga malas belajar,” kata mahasiswa asal Maluku Tengah ini, belum lama ini.

Dide  menguraikan, pembuatan aplikasi ini didasarkan pada program pemerintah, PPK (Penguatan Pendidikan  Karakter) pada jenjang pendidikan dengan  dibentuknya  5 nilai karakter  utama  pada anak, religius, gotong  royong, mandiri, integritas, dan nasionalis.

“Selain mengambil dasar dari PPK, dalam pembuatan aplikasi ini kami juga membagi materi cerita per jenjang pendidikan,  dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini dilakukan agar para siswa dapat memperoleh materi sesuai dengan usia dan jenjang pendidikannya,” lanjut Dide

Ia menjelaskan  cara kerja aplikasi tersebut. Pada menu utama, aplikasi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu SD, SMP,  dan  SMA. Kategori tersebut kembali dibagi menurut tingkatan kelas di jenjang SD-SMA. Setelah siswa memilih kelas, maka aplikasi akan memunculkan cerita rakyat dan permainan.

“Masing-masing jenjang memiliki cerita dan permainan yang berbeda. Pada jenjang SD, cerita rakyat berisi sinopsis  bersuara. Lalu tampilan akan berganti secara otomatis menjadi video animasi. Di jenjang SMP dan SMA, cerita  rakyat dikemas dalam bentuk komik. Detailnya, untuk SMP kami menggunakan permainan kuis bola yang berisi  pertanyaan-pertanyaan terkait isi cerita rakyat. Sementara di jenjang SMA,  kami menggunakan permainan kata baku yang dikemas  dalam  bentuk roda  berputar,” jelas mahasiswa pendidikan Bahasa Indonesia tersebut.

Dide dan tim mengajukan rancangan ini pada Program Kreativitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC) 2020 dan lolos sampai tahap pendanaan Ditjen Dikti. Saat ini, pembuatan aplikasi Citra telah sampai pada tahap desain prototipe aplikasi. Selanjutnya, aplikasi ini akan di daftarkan untuk memperoleh  Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

“Saya berharap, ketika aplikasi ini telah dirilis ke masyarakat, dapat membantu anak-anak dalam proses pembelajaran karakter,” tandasnya. (div/mat)