Ketua DPRD: Budaya Malangan Seharusnya Masuk Kurikulum Pendidikan

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Masuknya budaya impor yang menggerus budaya lokal, menjadi keprihatinan berbagai pihak, menyikapi hal tersebut, wacana agar Budaya Malangan dimasukan dalam kurikulum pendidikan sebagai mata pelajaran kesenian yang bermuatan lokal dimunculkan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang, Hari Sasongko, Senin (12/11/2018).

 

 

Hari Sasongko.

TIDAK BISA dipungkiri, ada rasa keengganan anak muda jaman sekarang untuk mengenakan pakaian adat nasional, khususnya pakaian adat lokal Malangan, ironisnya pengunaan carnival costumes yang notabene adalah budaya luar justru semakin marak. Hal itu bisa terlihat dari berbagai kegiatan budaya yang diadakan oleh pemerintah maupun masyarakat, misalnya dalam pawai budaya atau karnaval memperingati HUT Republik Indonesia, atau kegiatan seremonial lainnya yang bersifat resmi, acapkali justru pakaian yang dikenakan bertemakan carnival costum yang kekinian.

Ketua DPRD Kabupaten Malang, tidak menampik terhadap adanya pergeseran nilai budaya di kalangan generasi muda jaman sekarang. Budaya lokal malangan sebagai budaya asli semakin tergerus dengan budaya impor yang kian masif menjadi budaya imitasi seiring dengan pesatnya teknologi informasi. “Kemarin kita sudah pernah omong-omong dengan komunitas, atau paguyuban yang ada di Kepanjen, penggunaan pakaian adat daerah harus digerakan, karena itu ciri khas kita, pakaian adat Malangan itu seperti apa?”terang Hari Sasongko.

Sebagai budayawan, Hari tidak bisa menyalahkan para anak muda yang mulai tidak kenal dengan budaya lokalnya sendiri. “Kebudayaan Malangan yang semakin tergusur, itu bukan salah mereka, karena memang sosialisasi Budaya Malangan saat ini kurang sekali. Oleh karena itu mari Pemda, penggiat seni dan Dewan Kesenian Kabupaten Malang, mari mengangkat kembali Budaya Malangan, ”himbau alumni Universitas Brawijaya Malang.

Politisi PDIP ini bahkan menilai sudah saatnya Budaya Malangan yang merupakan budaya lokal daerah dimasukan ke dalam kurikulum pendidikan baik di tingkat Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). “Sudah saatnya diajarkan di sekolah, Budaya Malangan itu bagaimana, mengapa? Karena di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Solo, Budaya Malangan baik dalam arti gamelan maupun macapatan sudah menjadi satu mata kuliah,”ungkap Hari.

“Jangan sampai nanti orang Malang, belajar Budaya Malangan harus ke Solo,” imbuhnya.

Tidak hanya mengusulkan Budaya Malangan masuk dalam kurikulum pendidikan, sebagai pengiat budaya dan Ketua DPRD Kab Malang, pria asal Tajinan, mengaku telah memberikan pembekalan kepada para Guru Kesenian di Kabupaten Malang terkait Budaya Malangan. “Kemarin kita memberikan pembekalan kepada para Guru Kesenian agar berkosentrasi, dan fokus untuk mengembangkan Budaya Malangan, saya harap untuk tahun 2019, budaya lokal kita sudah semakin berkembang. Dari DPRD kita siap support anggaran,”tegasnya.

Tidak hanya prihatin dengan terdegradisinya Budaya Malangan, Hari Sasongko juga merasa miris dengan hedonism dan egoism yang juga kerap muncul dalam kegiatan karnval atau pawai budaya, yang sering memunculkan jor-joran sound system yang memekakan telinga. “Memang yang namanya pertunjukan itu perlu adanya sensasi, menarik perhatian. Mungkin munculnya egoisme itu sebagai akulturasi budaya, tapi jangan sampai akulturasi itu berbiaya tinggi dan menggerus budaya lokal kita,”pungkasnya. (diy)