Kemarau, 60 Hektar Lahan Perhutani Terbakar

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Musim kemarau yang berdampak kekeringan, mengakibatkan sejumlah hutan milik Perhutani mengalami kebakaran. Total sudah terjadi enam kali kebakaran dengan luas lahan 60 hektar. Salah satunya terjadi di petak 190 b RPH Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur,  Senin (08/10/2018).

 

Kebakaran lahan hutan milik Perhutani di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

 

KEPADA awak media, Wakil Administrasi Perhutani Malang, Ahmad Fadil mengatakan, kebakaran sudah terjadi sejak Minggu malam (07/10/2018).

“Kami mendapat laporan,  kemarin memang telah terjadi kebakaran di hutan milik Perhutani sekitar pukul 17.30 WIB. Bersama warga, petugas kami berusaha memadamkan api. Pukul 22.30 WIB api sudah berhasil dipadamkan. Jika siang ini menyala lagi, kami  belum mendapat informasinya,” terang Wakil Adm Perhutani Malang, Senin (08/10/2018).

Menurut Fadil, di musim kemarau 2018, untuk wilayah Kabupaten Malang,  tercatat enam kali kebakaran lahan di hutan milik Perhutani. “Memang, untuk Kabupaten Malang,  sering terjadi kebakaran. Setidaknya ada dua lokasi di areal hutan Gunung Kawi dan Gunung Geger,”paparnya.

Akibatnya, total 60 hektar hutan yang dikelola Perhutani hangus terbakar. “Itu masih data sementara. Untuk yang di Wagir,  kami masih belum bisa mendatanya, karena menunggu api padam. Dari 60 hektar lahan yang terbakar, alhamdulillah belum sampai merusak tanaman produksi. Kebakaran terjadi di bawah,  semak belukar, tidak sampai merembet ke atas,”jelas Fadil.

Untuk mencegah kebakaran yang lebih besar, pihak Perhutani meminta kepada jajarannya, jika terjadi indikasi kebakaran lahan segera dilakukan penanganan. “Jadi, mumpung belum besar, kita meminta petugas di lapangan segera menanggulanginya agar  tidak sampai membesar,” katanya.

Untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan, pihak Perhutani mengaku sudah melakukan sosialisasi. “Sosialiasasi berulang kali kita lakukan kepada para pendaki. Mereka kami minta tidak membuat api unggun dan membuang puntung rokok secara sembarangan. Sedangkan khusus kepada masyarakat,  petani pengarap di lahan Perhutani atau yang berdekatan, kami minta agar mereka tidak membakar ilalang untuk membersihkan lahannya. Kalau terpaksa harus membakar lahan, harus benar-benar ditunggui sampai api benar-benar padam,” ungkap Fadil.

“Saya menghimbau kepada masyarakat, baik yang bertempat tinggal dekat kawasan hutan, maupun pendaki atau warga yang melintas di areal hutan, bijaklah memperlakukan api. Jangan membuang puntung rokok yang masih menyala secara sembarangan,” pungkas Ahmad Fadil. (diy)