Kekurangan Guru, Puluhan SD Di Merger

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Untuk memajukan mutu pendidikan, kualitas dan kuantitas tenaga pengajar atau guru adalah suatu keniscayaan, sayangnya Kabupaten Malang saat ini tengah mengalami kekurangan Guru ASN, hal ini diungkap oleh Kepala Bidang TK/ SD Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Slamet Suyono, Jumat (10/8/2018).

 

Kabid TK/SD Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Slamet Suyono.

DITEMUI di ruang kerjanya Kabid TK/SD Kabupaten Malang, menjelaskan saat ini di Kabupaten Malang memiliki 1.100 SDN (Sekolah Dasar Negeri). “Namun jumlah Guru berstatus ASN kita hanya sekitar 6 ribu orang, idealnya kita membutuhkan 9.900 orang, karena satu sekolah memerlukan 9 tenaga pengajar,” ungkap Slamet.

Menurut Slamet, karena kekurangan tenaga pengajar, tak jarang satu guru berstatus ASN harus merangkap mengajar di dua sekolah. “Kejadian seperti itu banyak terjadi di sekolah pinggiran, bahkan di Sumbermanjing Wetan, ada satu sekolah yang hanya memiliki satu ASN, hanya Kepala Sekolah saja yang merupakan guru negeri,” papar Slamet.

Beruntung kekurangan tenaga pendidik berstatus ASN masih bisa ditutupi dengan tenaga GTT (Guru Tidak Tetap). “Kalau untuk GTT kita mempunyai 6.295 orang, sementara ini masih bisa menutupi kekurangan Guru ASN,” kata pria asal Poncokusumo.

Melihat kondisi yang membuat miris itu, Pemkab Malang sebenarnya sudah mengajukan ke Kemenpan untuk penambahan Guru ASN, namun sejauh ini belum ada balasan. “Sudah diajukan tapi belum ada balasan,” beber Slamet.

Demi untuk memperbaiki kesejahteraan GTT, Pemkab Malang mengajukan agar penambahan Guru ASN nantinya tidak melalui jalur test. “Kita mengajukan untuk penambahan Guru ASN dengan cara mengangkat para GTT, karena banyak dari para GTT itu yang sudah mengajar puluhan tahun,” papar Kabid TK/SD Dindik Kabupaten Malang.

Selain mengajukan penambahan Guru ASN ke Kemenpan, Pemkab Kabupaten Malang melalui Dindik juga mengambil kebijakan untuk melakukan merger atau perampingan SDN. “Ada 72 SD di 14 Kecamatan yang akan dimerger, terbanyak di Lawang ada 14 SDN yang akan dimerger,” jelas pria yang menjabat Ketua KMB.

Alasan dilakukan merger adalah untuk efisiensi dan menghindari persaingan dua sekolah yang ada dalam satu halaman. “Merger banyak dilakukan pada dua SDN yang berada dalam satu halaman. Biasanya satu sekolah mempunyai jumlah murid yang banyak, sedangkan satu sekolah justru kekurangan murid, hal seperti ini yang ingin kita hindari dengan melakukan merger,” jelas Slamet.

Proses merger SD sebenarnya saat ini sudah berlangsung, hanya tinggal menunggu pengesahan administrasinya. “Secara de facto prosesnya sudah berlangsung, saat ini tinggal menunggu dari SK Bupati,”pungkas Slamet. (diy)