Jumlah HP di Indonesia Tembus 355 Juta Buah

Kresna Dewanata Phrosakh menyerahkan doorprize kepada peserta seminar.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Jumlah handphone (HP) di Indonesia saat ini, jauh lebih banyak dari pada jumlah penduduk, mencapai 355 juta buah. Sedangkan jumlah penduduk hanya 260 juta jiwa. Setiap tujuh menit sekali masyarakat melakukan aktivitas media sosial (medsos), dan  menggunakan internet 7 sampai 8 jam per hari. Namun ironisnya, Indonesia  berada pada peringkat ke-60 negara yang penduduknya gemar membaca.

 

HAL INI disampaikan Direktur Informasi dan Komunikasi Politik Hukum Keamanan dan HAM, Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo RI,  Bambang Gunawan di sela-sela seminar Merawat Kebhinekaan Dengan Bijak Bermedsos di salah satu hotel di Malang, Jawa Timur,   Minggu (16/11/2019) lalu bersama anggota Komisi 1 DPR RI, Kresna Dewanata Phrosakh.

Jumlah handphone di Indonesia melebihi jumlah penduduk.

Bambang menyatakan, saat ini jumlah handphone sudah melebihi jumlah penduduk Indonesia. “Berdasarkan sebuah riset , sekarang ini jumlah handphone  di Indonesia sebanyak 355 juta buah,  melebihi jumlah penduduk, sekitar 260 juta jiwa. Karenanya butuh sosialisasi penggunaan medsos via handphone agar tidak timbul dampak buruk,” katanya kepada wartawan.

Bambang memaparkan berbagai hasil riset terkait ponsel dan internet di Indonesia. Yaitu, sebanyak 4 dari 10 penduduk Indonesia aktif bermedsos. Setiap tujuh menit sekali melakukan aktivitas bermedsos. Mereka menggunakan internet 7 sampai 8 jam per hari. Namun ironisnya, Indonesia  berada pada peringkat ke-60 negara yang penduduknya gemar membaca, di bawah Botswana yang menduduki peringkat ke-59.

“Kami ingin secara intensif dan massif menjalankan sosialisasi bijak bermedsos merawat kebhinekaan. Caranya dengan mencetak partisipan dalam seminar seperti ini, menjadi agen sukarela turut menyebarkan perilaku bijak dalam bermedsos,” kata  Bambang.

Dia menambahkan, di tengah arus tsunami informasi seperti sekarang ini, pihaknya berupaya intensif melakukan sosialisasi agar warganet bisa bijak bermedsos dalam merawat kebhinekaan.  “Sekarang ini yang terjadi tidak hanya banjir informasi, namun sudah terjadi tsunami informasi yang butuh sikap bijak dan cerdas bermedsos,” tuturnya.  (had/mat)