Jari Tangan Korban Bully Diamputasi

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – MS (13), siswa SMPN 16, Kota Malang, Jawa Timur,  yang diduga menjadi korban bully teman-temannya di sekolah, akan menjalani operasi amputasi, Selasa sore (04/02/2020). Amputasi itu dilakukan terhadap salah satu jari tangan korban, karena urat saraf jari tidak berfungsi secara normal, sehingga jari semakin biru dan  menghitam.

 

 

Anggota komunitas Lembaga Perlindungan Anak (LPA), selaku pendamping korban bully, MS, Yuni Kartika dan Zainudin Albar memberikan keterangan.

ANGGOTA komunitas Lembaga Perlindungan Anak (LPA), selaku pendamping korban, Yuni Kartika menjelaskan, rencananya, menjelang operasi, dirinya dan teman – tenam komunitasnya, menggelar doa bersama di rumah sakit. “Iya, rencananya sore ini dilakukan operasi. Untuk itu, teman- teman akan gelar doa bersama,” tuturnya ditemui, Selasa (03/02/2020) siang.

Ia bersama kawan -kawanya berkomitmen untuk mengawal kasus tersebut sampai selesai, meskipun nantinya korban tidak bisa normal kembali seperti sebelumnya, karena satu anggota badannya dipotong.

Yuni Kartika mengaku, dalam teknis pendampingan, pihaknya telah mendatangkan psikolog. Dengan begitu, kondisi korban  semakin membaik.

Sementara itu, Zainudin Albar,  anggota LPA bidang hukum menjelaskan, dari sisi hukum, harus ada efek jera bagi pelaku. Pihaknya, kini fokus pada penyembuhan korban, dan pembiayaan dilunasi.

“Kasus ini diselesaikan dengan kekeluargaan. Masalah pembiayaan ditanggung para wali murid pelaku. Kalau bidang hukum, ya harus ada efek jera bagi pelakunya agar  tidak terjadi kejadian serupa di masa mendatang,” pintanya.

Sebelumnya, beredar di media sosial atas dugaan kekerasan di sekolah SMPN 16 Malang. Kepala Sekolah SMPN 16 Kota Malang, Syamsul Arifin membenarkan kejadian itu di lingkungan sekolahnya. Menurutnya, hal itu terjadi di sekolahnya Rabu, (15/01/2020), setelah sebelumnya menanyakan kepada para siswa.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra. Zubaidah, MM, menjelaskan, setelah kejadian tersebut, siswa yang bersangkutan sudah masuk sekolah. Namun, kemudian ijin tidak masuk karena sakit. “Setelah kejadian, hari berikutnya sudah masuk sekolah namun diperban. Bahkan sudah ikut Pramuka. Namun akhirnya ijin tidak masuk karena sedang dirawat di rumah sakit sampai saat ini,” terangnya.

“Ada kejadian itu, tapi tidak kekerasan. Itu guyon dengan teman – temannya di masjid,” imbuh Zubaidah. (ide/mat)