Hadi Puspita, Senang Musik, Terpaksa Jadi Dokter

Mantan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Malang, Jawa Timur, dr. Hadi Puspita mengaku terpaksa menjadi dokter. Ayah dan ibunya, yang berprofesi mantri kesehatan dan paramedis di Turen, Kabupaten Malang, ingin agar dari sepuluh putera dan puterinya, ada yang meneruskan jejaknya di dunia kesehatan.

 

 

dr. Hadi Puspita, sebetulnya dia senang di dunia seni, tapi akhirnya terpaksa menjadi dokter.

“DARI sepuluh saudara, hanya saya yang bergelut di dunia kesehatan dan menjadi dokter. Padahal,  saat itu saya sudah diterima dan masuk di ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja. Akhirnya saya kemudian kuliah di Fakultas Kedokteran Udayana, Bali, ” kata dr. Hadi Puspita, ditemui di kantornya,  sebelum memasuki masa pensiun, Agustus 2018 lalu.

Bahkan,  karena merasa kecewa karena kuliah dalam bidang yang kurang diminati, Hadi Puspita muda sampai harus menggundul rambutnya demi menunjukan ekspresinya. Namun begitulah, perjalanan hidup manusia, siapa sangka. Dunia yang awalnya kurang  menarik, justeru pada akhirnya melambungkan namannya.

Usai menamatkan studinya, penggemar aliran musik rock progesive ini ditugaskan pada sebuah Puskesmas terpencil, di Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. “Saat itu belum ada listrik dan air. Bahkan untuk menyimpan vaksin atau serum, kami harus menggunakan lemari pendingin berbahan bakar minyak,”ungkap penggemar grup musik Queen dan Dream Theatre.

Berkat dedikasinya melakukan pelayanan terhadap masyarakat kurang mampu,  menarik perhatian dari ekspatriat Combustion Engineering dari USA yang berkerja di PLTU Paiton. Hadi pun mendapat bantuan untuk memperbaiki Puskesmas Pakuniran, tempatnya bekerja.

Bahkan atas kepeduliannya kepada masyarakat papa, pengidola Freddie Mercury dan Robert Plant ini, pada tahun 1992, diberi penghargaan oleh Combustion Engineering, PLTU Paiton sebagai dokter yang peduli kepada orang miskin.

Sewaktu bertugas di Puskesmas Pakuniran ini, sebagai dokter muda, Hadi Puspita banyak menjumpai berbagai masalah kesehatan yang banyak mendera masyarakat marginal, termasuk kasus ibu meninggal saat melahirkan.

Tahun 1995, dokter yang menguasai beberapa jenis alat musik secara otodidak ini, dipindah tugas ke tanah kelahirannya, Kabupaten Malang. “Pada 1995, saya dipindah ke Puskesmas Turen, kemudian Dampit, Donomulyo dan Kepanjen sampai menjadi Kepala BKKBN Kabupaten  Malang saat itu. Di sini mulai timbul pemikiran Contra War yang kemudian kami kembangkan bersama teman-teman di BKKBN. Sebelum itu, saya juga sempat mempelopori program Sutra Emas. Hampir sama seperti Contra War, namun sayang akhirnya program itu terhenti,” terangnya.

Memiliki passion of art yang tinggi, Hadi Puspita sering ngejam bareng dengan musisi nasional kawakan, seperti Totok Tewel, gitaris Elpamas dari Pandaan, Jawa Timur. “Kalau ketemu, kita masih sering ngejam bareng. Bahkan, dulu,  saya,  kalau mencari kaset di kawasan Aldiron Plaza, Blok M, Jakarta, sering sama Erwin Gutawa dan Faris RM,” bebernya sembari tertawa.

Kecintaanya pada musik, tak hanya membuat Hadi piawai bermain musik. Pria yang menjadi dokter karena ‘terpaksa’ ini juga jago mencipta lagu. Terbukti, karyanya dengan judul ‘Doa Untuk Bunda’ yang diciptakan untuk Program Indonesia Emas di tahun 2016, sampai diendorse oleh PBB. “Lagu itu memang saya cipta sendiri, baik lirik maupun aransemennya,” tutur pria asal Turen ini.

Dengan berbagai prestasi yang telah diukirnya, dr. Hadi Puspita, banyak menerima berbagai pengharagaan. Pada tahun 2006 dianugerahi penghargaan Dokter Teladan Nasional, dan mendapat hadiah sepeda motor dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Di tahun 2007, Majalah Tempo memberi penghargaan sebagai satu dari 12 Pemimpin Perubahan Nasional. Pada peringatan seabad Hari Kebangkitan Nasional, tahun 2008, pria yang juga menyukai lukisan ini,  dinobatkan sebagai nomor satu dari 10 Dokter Terpuji Nasional.

Setahun kemudian, pada tahun 2009, Campus Magazine, memberi pengharagaan dr. Hadi Puspita sebagai satu dari 500 Dokter Terbaik se Asia Tenggara.

Lebih dari dua puluh tahun mengabdikan diri sebagai ASN, Hadi Puspita ingin menghabiskan masa pensiunnya untuk keluarga. “Sudah saatnya bersama keluarga. Saya ingin menikmati bersama anak isteri dan cucu saya. Satu lagi, saya ingin kaya dengan membuka usaha. Karena menjadi ASN lurus itu susah kaya,”selorohnya sambil menderai tawa renyahnya.

Kepada para penerusnya, dokter yang dikenal luas oleh masyarakat Turen ini berpesan agar bekerja itu harus progesive, jangan pernah menunda pekerjaan. Jika melakukan inovasi, harus sampai bisa menimbulkan dampak yang positif. “Semoga penerus saya, khususnya di DPPKB Kabupaten Malang, bisa menjaga dan meneruskan program Contra War. Berinovasi itu harus sampai pada impactnya. Jangan hanya berhenti di proses saja,”pungkas dokter Hadi Puspita. (herdian)