Gus Ipul – Puti Menang di Kabupaten Malang dan Batu

Suasana pencoblosan Pilgub Jatim di sebuah TPS di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Meski secara umum pasangan Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno kalah dalam pertarungan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018, namun mereka unggul 51,33% dalam perolehan suara di Kabupaten Malang. Sedangkan Khofifah – Emil Dardak memperoleh suara 48,67%.

 

KOMISIONER KPU Kabupaten Malang, Abdul Holik ditemui di kantornya, Kamis (28/06/2018) mengatakan, berdasar  mekanisme hitung cepat suara yang dilakukan KPU, sampai Kamis (28/06/2018) siang, jumlah suara yang sudah masuk  96,41%.

Gus Ipul – Puti saat kampanye beberapa waktu lalu.

“Saat ini yang sudah masuk baru 96,41% dengan perolehan suara 1.196.430. Ini masih sementara, belum jumlah suara semuanya,” terang Gus Holik.

Komisioner KPU Kabupaten Malang, Abdul Holik

“Berdasarkan peroleh suara sementara di KPU Kabupaten Malang, Gus Ipul mengungguli Khofifah. Paslon nomor urut dua ini mendapat perolehan suara 613.805 atau 51, 33%, sedangkan paslon nomor urut 1 (Khofifah – Emil Dardak) mendapat suara 582.030 atau 48,67%,” beber Abdul Holik.

Gus Ipul – Puti tidak hanya unggul di Kabupaten Malang, tapi juga di Kota Batu. Di kota wisata ini, paslon nomor 2 yang diusung PDI Perjuangan dan PKB ini  memperoleh 50,89 %, sedangkan paslon nomor 1 memperoleh 49,11 %. Hanya selisih 1,7 %. Namun di Kota Malang, paslon nomor 1 unggul  52,7 %, dan Gus Ipul memperoleh 47,3 % atau selisih suara 5 %.

Gus Holik menambahkan, untuk suara  tidak sah,  berdasarkan  suara yang sudah masuk ke KPU Kabupaten Malang, mencapai 33.141 kartu suara. Sedangkan data kehadiran pengguna hak suara 1.228.970 dengan rincian laki laki sebanyak 584.190 orang sedangkan pemilih wanita 644.177 suara.

Melihat data tersebut, tidak bisa dipungkiri jika angka golput terbilang tinggi. “Hal tersebut disebabkan beberapa faktor. Di antaranya, banyak pemilih yang sedang bekerja di luar kota, banyak  yang jadi TKI/TKW di luar negeri. Hal itu yang kami nilai mempengaruhi kenapa angka partisipasi masyarakat rendah jika mengacu dalam jumlah DPT,” terangnya.  (diy)