Gerakan Mahasiswa Ini Ringankan Masyarakat Terdampak COVID-19

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bekerjasama dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) serta Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PDM Kota Batu, Jawa Timur, menginisiasi Gerakan Ketahanan Pangan Keluarga (Getapak). Gerakan ini dilakukan untuk meringankan beban masyarakat akibat pandemi COVID-19 yang tak kunjung berakhir.

 

Mahasiswa UMM Jawa Timur, merancang program Gerakan Ketahanan Pangan Keluarga (Getapak) untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak COVID-19.

 

DALAM pelaksanannya, kegiatan yang dilangsungkan pada 5 – 31 Oktober 2020 ini dibantu lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan bimbingan  Dr. Ir. Damat, MP.

Mahasiswa UMM Jawa Timur, menggelar Gerakan Ketahanan Pangan Keluarga (Getapak) untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak COVID-19.

Ayu Ramadhani Kumala Dewi, ketua tim menjelaskan, kegiatan itu mencoba memberikan solusi lain untuk membantu memulihkan ketahanan pangan keluarga di tengah pandemi COVID-19, utamanya mereka yang tinggal di Kota Batu. “Ada tiga lokasi yang menjadi fokus kami, Kelurahan Sisir, Desa Tlekung, serta Desa Giripurno,” terangnya, Selasa (29/12/2020) siang lewat rilis UMM.

Mahasiswa asal Jombang ini mengungkapkan,  ada beberapa tahapan  yang timnya lakukan. Diawali dengan proses pendataan dan survey masyarakat. Dilanjutkan penyuluhan terkait urban farming. Terakhir pendampingan yang diberikan kepada masyarakat selama  sebulan.

Dalam materi penyuluhan, masyarakat diajak untuk mengenal pembuatan aquaponik, hidroponik, serta budidaya ikan dalam ember (budamber). Tiga materi itu dipilih karena dinilai cukup sederhana dan mudah dibuat.

Sayuran yang dihasilkan dari Gerakan Ketahanan Pangan Keluarga (Getapak) bisa menjadi alternatif pemenuhan gizi masyarakat yang terdampak COVID-19.

Budamber misalnya, hanya memerlukan peralatan yang biasa ditemukan di rumah. ”Kami mencoba memberikan solusi sederhana yang bisa dilakukan masyarakat. Jadi tidak perlu menambah biaya yang besar dalam pembuatannya,” tandas Ayu.

Ditemui di kesempatan lain, Baharuddin Jamil Al-Munir, anggota kelompok PMM Getapak mengatakan, mereka tidak hanya menyedikan penyuluhan, tapi juga materi Program Cantelan serta bantuan langsung bahan pangan.

Kegiatan ini tidak lepas dari kendala. Ia melihat, masyarakat peserta penyuluhan masih kesulitan memahami materi urban farming. “Mungkin karena baru pertama kali mendengarnya. Meski begitu, pelan-pelan masyarakat tertarik dan mulai memahami dengan baik berkat  pendampingan yang kami lakukan,” sambungnya.

Mahasiswa UMM asal Bengkulu itu juga berharap agar agenda ini bisa meringankan beban masyarakat terdampak pandemi. Sayur dan buah yang dihasilkan dari teknik-teknik yang disampaikan dalam penyuluhan bisa menjadi alternatif pemenuhan gizi. Selain itu juga budamber dapat memenuhi bahan pangan masyarakat. (div/mat)