TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

mulasi penanganan bencana di gedung bertingkat oleh TRC PB BPD dan PMI Kab Malang, serta potensi SAR lainnya

Gempa Bumi Guncang Malang, 5 Pegawai Pemkab Malang Terjebak di Lantai 7

Simulasi penanganan bencana di gedung bertingkat oleh TRC PB BPD dan PMI Kab Malang, serta potensi SAR lainnya.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Sebanyak 5 pegawai Pemkab Malang, Jawa Timur terjebak di lantai 7 kantor  Bupati Malang di Kepanjen akibat gempa bumi, Jumat (26/04/2019). Beruntung mereka bisa diselamatkan tim penolong. 

 

INILAH simulasi yang dilakukan relawan dari BPBD, SAR dan sebagai saat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Jawa Timur  menggelar apel Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2019 (HKBN) dan simulasi penanggulangan bencana di Pendopo Kabupaten, Kepanjen, Jumat (26/04/2019).

Apel HKBN 2019 yang bertemakan “Kita Menjaga Alam, Alam Menjaga Kita” dipimpin  Sekda Kabupaten Malang, Ir. H. Didik Budi Muljono, M.T, diikuti 7 peleton dari unsur BPBD, PMI, SAR, TNI / Polri dan Dinas Perhubungan, serta Pramuka.

Selain itu digelar simulasi penanganan bencana di gedung bertingkat. Dalam skenario, diumpamakan Kabupaten  Malang mengalami gempa bumi yang  berakibat  matinya aliran listrik di gedung Sekretariat Kabupaten Malang di Jl. Panji, Kepanjen yang berlantai 9 ini.

Simulasi penanganan bencana di gedung bertingkat oleh TRC PB BPD dan PMI Kab Malang, serta potensi SAR lainnya.

Para penghuni gedung pun berhamburan keluar menyelamatkan diri. Di tengah kekacauan yang ada, terjadi gempa susulan yang akhirnya memutus tangga darurat di lantai 7, dan aliran listrik sehingga lift tidak berfungsi.

Petugas melakukan simulasi penanganan bencana di gedung bertingkat.

Sialnya di lantai 7 masih ada lima orang yang terjebak dan menderita cedera. Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC PB) BPBD dan relawan PMI Kabupaten Malang serta potensi SAR yang lain terpaksa  melakukan vertical resque untuk mengevakuasi 5 korban yang terjebak di lantai 7 tersebut.

Upaya dramatis di tengah kekalutan dilakukan para relawan demi menyelamatkan kelima  orang tersebut. Dengan menggunakan tali, satu persatu korban diturunkan dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2019 di Pendopo Kab Malang.

Usaha para relawan pun tidak sia-sia. Dengan perjuangan yang tidak mudah,  kelima survivor akhirnya bisa diselamatkan.

Dalam kesempatan itu, Ketua PMI Kabupaten Malang, Hj.Jajuk Rendra Kresna, S.E,M.M menyatakan, HKBN untuk mengingat bahwa di nusantara memiliki potensi bencana yang besar.

“Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional adalah untuk mengingatkan kita, bahwa Indonesia, khususnya Kabupaten Malang, dengan kondisi geografis yang ada,  adalah daerah rawan bencana,” terangnya.

“Tetapi bencana itu bisa diatasi dengan kebersamaan. Makanya,  semua stakeholder harus terlibat dalam hal ini. Berkenaan dengan tema hari ini, bagaimana kita hidup selaras dan harmoni dengan alam,”lanjutnya.

Untuk itu, menurutnya, pengenalan dan pemahaman terhadap bencana harus dikenalkan sejak dini. “Sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana kita mengenalkan kepada anak kita jenis-jenis bencana yang ada. Kemudian bagaimana upaya penyelamatan dirinya. Jadi, sejak dini pemahaman potensi bencana itu sudah harus diberikan,” jelas Ketua PMI Kabupaten  Malang.

Berkaitan dengan sarana peralatan, perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Malang ini berusaha akan melengkapinya. “Peralatan akan kita upayakan, kita tambah kelengkapannya. Tapi yang terpenting adalah sumber daya manusianya. Dalam kesempatan ini, saya sampaikan terima kasih kepada para relawan semuanya, PMI, BPBD maupun potensi SAR lainnya,” tandasnya.

Mengamini apa yang disampaikan Ketua PMI Kabupaten Malang, Kepala BPBD Kabupaten Malang, Drs.Bambang Istiawan menegaskan perlunya masyarakat mengetahui cara dan upaya penyelamatan mandiri ketika terjadi bencana.

“Apa yang disampaikan Ibu Ketua PMI Kabupaten Malang benar. Kita dari BPBD, PMI atau SAR lainnya adalah tim penyelamat pendukung. Artinya,  masyarakat harus bisa menyelamatkan dirinya terlebih dahulu. Karena itu,  pertama sekali harus paham apa, seperti apa,  dan bagaimana yang akan dilakukan ketika terjadi bencana,” jelasnya.

Menurut Bambang, saat terjadi bencana, maka tim penolong dan penyelamat akan datang ketika bencana telah terjadi. “Kita tidak tahu kapan bencana itu akan terjadi dan tidak menginginkannya. Tapi ketika ada bencana, jarak, keterbatasan personil, alat,  sangat berpengaruh pada upaya penyelamatan. Belum lagi jika sarana jalan terputus terkena bencana. Maka,  waktu untuk sampai di titik bencana akan semakin lama. Untuk itu masyarakat yang terkena bencana harus paham bagaimana upaya penyelamatannya, terhadap diri sendiri maupun orang lain,” papar Bambang.

Mantan Kepala Satpol PP Kabupaten Malang ini berharap, ke depan, masyarakat menjadi tangguh dalam menghadapi bencana. “Ke depan hal itu yang kita inginkan. Masyarakat bisa secara mandiri dan tangguh menghadapi bencana,”pungkasnya. (diy)