Gelapkan Saham, 4 Ahli Waria PT Zangrandi Prima Disidang

SURABAYA, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Empat ahli waris PT Zangrandi Prima, perusahaan keluarga es krim khas kota pahlawan, menjalani persidangan di Pengadilan Negeri,  Surabaya, Selasa (14/01/2019). Mereka adalah Ir. Willy Tanumulia, drg. Grietje Tanumulia, Emmy Tanumulia, dan Fransiskus Martinus Soesetio (disidang dalam berkas terpisah).

 

Keempat terdakwa saat sidang di PN Surabaya.

 

SIDANG yang diketuai majelis hakim, Pujo Saksono, SH, ini mengagendakan pembacaan dakwaan. Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU),  Damang Anubowo, SH, dari Kejaksaan Negeri Surabaya, menyebutkan, keempat terdakwa didakwa melakukan tindak pidana penggelapan saham sepuluh lembar milik korban, Evy Susantidevi Tanumulia, yang tidak lain merupakan saudara kandung  para terdakwa.

“Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 266 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) KUHP,” kata Damang saat membacakan surat dakwaannya di ruang Garuda 1, Selasa (14/01/2020).

Atas dakwaan JPU, para terdakwa melalui penasihat hukumnya akan mengajukan upaya hukum lain berupa nota keberatan (eksepsi) pada agenda sidang berikutnya. Persidangan akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembacaan eksepsi.

Sekedar diketahui, Adi Tanumulia (alm) dan Jani Limawan (alm), merupakan pasangan suami istri yang memiliki  tujuh anak kandung. Mereka adalah Sylvia Tanumulia, Robiyanto Tanumulia, Emmy Tanumulia, Willy Tanumulia, Ilse Radiastuti Tanumulia, Evy Susantidevi Tanumulia dan Grietje Tanumulia.

Sebelum meninggal dunia, Adi Tanumulia (alm) dan Jani Limawan (alm) mendirikan sebuah perusahaan bergerak di bidang penjualan es krim dengan nama ZANGRANDI. Setelah Adi Tanumulia meninggal dunia, kegiatan usaha tersebut dilanjutkan oleh anak-anaknya, dan pada akhirnya didirikanlah PT. ZANGRANDI PRIMA. Pemegang sahamnya adalah para ahli waris sekaligus.

Pada saat pendirian PT Zangrandi Prima, segenap ahli waris sepakat, saham milik Evy Susantidevi diatasnamakan saudaranya,  Sylvia Tanumulia yang tertuang dalam  Akta No. 31 tanggal 12 Pebruari 1998 tentang Surat Pernyataan yang dibuat di hadapan  Susanti, S.H Notaris /PPAT di Surabaya. Selanjutnya, dalam setiap rapat perusahaan,  Evy selalu diundang,  bahkan diberikan deviden oleh perusahaan.

Belakangan, sejak Sylvia meninggal dunia pada tahun 2013, mulai timbul upaya-upaya untuk mencaplok saham Evy di PT Zangrandi. Alhasil, dilakukanlah rapat umum pemegang saham (RUPS), kemudian saham sebanyak 20 lembar milik Sylvia (alm) berikut milik Evy tersebut, dialihkan sepihak kepada Willy (7) saham, Grietje (7) saham, dan Emmy (6) saham, pada tanggal 25 Agustus 2017. Dan hasil rapat tetap disahkan Fransiskus.

Atas perbuatan para terdakwa, korban Evy Susantidevi hanya berharap negara hadir dan melindungi dirinya yang merasa dirugikan karena saham miliknya yang merupakan warisan orang tua, diambil oleh saudaranya sendiri. (ang/mat)