TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

E-Paddy, Mengatasi Listrik di Daerah Tertinggal

Banyak daerah di Indonesia yang saat ini belum teraliri listrik. Menurut data pemerintah, sekitar 19% kawasan Indonesia belum mendapatkan pasokan listrik. Banyak usaha yang dilakukan untuk mengatasi, sayang masih terkendala biaya tinggi serta proses yang rumit.

Hal ini yang melatari lima mahasiswa Keteknikan Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Mereka merancang inovasi E-Paddy sebagai solusi listrik di daerah tertinggal.
Kelima mahasiswa tersebut adalah Dheniz Fajar Akbar (TBP 2014), Lisa Normalasari (TEP 2012), Yogan Surya Tirta (TEP 2012), Tiara Wiranti (TEP 2012) dan Hamdan Mursyid (TBP 2014) di bawah bimbingan Dewi Maya Maharani, STP. MSc.
“Prinsip dasar yang digunakan dalam penelitian sebenarnya sederhana, yaitu dengan menggabung-kan prinsip fisika dan biologi. Prinsip biologi yang digunakan di sini adalah fotosintesis,” terang Dheniz Fajar, saat ditemui di acara Expo Harnoni Karya Anak Bangsa, di FTB UB, Rabu (26/5/2016).
Umumnya tanaman akan menyerap sinar matahari dan menghasilkan glukosa (C6H1206) dan oksigen (O2) melalui proses fotosintesis. O2 yang dihasilkan akan terlempar bebas ke udara. Adapaun glukosa yang dihasilkan akan diserap oleh tanaman sebesar 30%.
Sementara 70% sisa glukosa yang tidak terserap kemudian akan dikonsumsi oleh mikroorganisme dalam tanah dan terurai menjadi CO2, H2O dan elektron. Berdasarkan prinsip fisika, tim akan memasang katoda dan anoda disekitar tanaman padi. Anoda yang ditanam dalam tanah akan menangkap elektron.
Sementara katoda diletakkan diluar tanah. Kedua anoda dan katoda ini terhubung oleh sebuah kabel yang mengalirkan elektron. Pergerakan elektron inilah yang kemudian akan menghasilkan listrik.
Semakin banyak penyiraman dan pemberian kompos akan menghasilkan peningkatan produksi elektron hingga menghasilkan tegangan listrik yang makin tinggi. Ini juga berarti makin tua umur padi akan makin banyak menghasilkan elektron. Tim menggunakan padi jenis IR-64 yang banyak ditemui dengan umur 25-30 hari.
Berdasarkan penelitian tim, 20 batang padi menghasilkan 331.6mV dengan penyiraman 500ml air dan pemberian kompos 5% dari massa tanah dalam pot. Kedepan tim berharap penelitian ini dapat diaplikasikan ke berbagai daerah terutama di desa yang belum teraliri listrik tetapi memiliki areal persawahan yang memadai.*