DTPHP: Kabupaten Malang Kehilangan Jati Diri Sebagai Produsen Kopi

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Memiliki bentang alam yang merupakan perpaduan antara pegunungan dan pantai, sebagian wilayah di Kabupaten Malang sangat berpotensi untuk dikembangkan tanaman kopi (Coffea). Bahkan kopi baik jenis Robusta maupun Arabika dari daerah Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo dan Dampit (AMSTIRDAM) sudah sangat dikenal di pasar internasional.

 

Petani kopi saat memanen kopi. (ist)

 

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Kabupaten Malang, Budiar Anwar.

SAYANGNYA beberapa waktu terakhir pesona kopi Kabupaten Malang sudah mulai pudar. Agar kopi di Kabupaten Malang bisa kembali berjaya, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, kini berusaha meningkatkan produksi dan mutu kopi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Pantjaningsih SR.

“Saat ini kita berusaha untuk mengembalikan kejayaan kopi di Kabupaten Malang, yang  di pasar internasional kita bersaing ketat dengan Vietnam dan Brasil. Memang kita sudah mulai kehilangan jati diri sebagai produsen kopi, misalnya, kopi tumbuk yang ditumbuk menggunakan lesung, itu asli dari Jawa, namun sekarang hak patennya dimiliki Brasil, ini sangat disayangkan,” ungkap Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Minggu (03/03/2019).

Menurut Budiar, kopi dari Kabupaten Malang sebenarnya mempunyai kualitas yang sangat baik, karena ditanam di daerah dataran tinggi, seperti lereng pegunungan. “Mutu kopi kita sangat baik, karena tumbuh di lereng pegunungan, lahan produksi kopi yang ada di Kabupaten Malang untuk jenis Robusta mencapai 16 ribu hektar, sedangkan Arabika ada 6 ribu hektar,”paparnya.

Tidak mau semakin kehilangan jati diri sebagai daerah penghasil kopi, DTPHP Kabupaten Malang melakukan beberapa usaha untuk meningkatkan produktifitas dan mutu kopi, misalnya untuk meningkatkan luas lahan produksi, DTPHP bekerja sama dengan pihak Perhutani. “Kita sudah menjalin kerjasama dengan Perhutani, untuk menambah luas lahan produksi, jadi petani kopi yang bergabung dalam LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) akan menanam kopi dibawah pohon tegakan milik Perhutani. Namanya petani pesanggeng, nanti mereka akan bagi hasil dengan Perhutani sebagai pemilik lahan,” jelas mantan Kabag Humas Pemkab Malang.

Pun demikian, untuk meningkatkan mutu produksi, menurut Budiar, pihaknya kini memiliki 3 orang Master Trainer kopi yang akan memberikan pelatihan bagaimana teknik budidaya kopi, kepada para petani. “Kita sudah mempunyai 3 orang Master Trainer kopi dan saat ini sedang mulai melakukan training kepada 20 orang. Mereka ini diharapkan mempunyai keahlian di bidang kopi, jadi mulai dari masa tanam, hingga paska panen mereka bisa memberikan pendampingan kepada petani kopi,” jelas Budiar.

“Kendala kita dilapangan, kadang para petani agak susah diberi pengertian, jika memanen, petik kopi yang sudah merah, yang hijau jangan, hal ini sudah seringkali kita lakukan sosialisasi, namun masih ada juga yang melakukannya, kita berharap para Master Trainer ini nanti akan bisa memberikan pemahaman kepada petani,” imbuh Kadis TPHP Kabupaten Malang.

Tidak hanya berkutat pada masalah produksi, DTPHP Kabupaten Malang juga berupaya mengenalkan produk kopi Kabupaten Malang ke pasar internasional, dan mengembangkan produk unggulan baru, seperti kopi organik, yang diklaim bebas pupuk dan obat pembasmi hama berbahan kimia. “Tentunya kita kenalkan produk kita lewat pameran yang ada, maupun mengundang para investor. Bahkan kita berhasil mengembangkan produk kopi organik yang sudah kita ekspor ke Cina atau Jepang meski baru 4 ton. Tapi kopi organik ini meski lebih mahal tapi disukai, karena mempunyai manfaat kesehatan bagi tubuh,” beber pria ramah ini.

“Pada intinya kita sangat mendukung pengembangan dan inovasi dalam budidaya dan pengolahan dan pengemasan kopi, tapi yang perlu diingat jangan sampai kreasi yang dilakukan malah menurunkan mutu kopi yang sudah ada, Kita juga ajak masyarakat untuk bercocok tanam kopi, karena daerah kita memang sangat baik untuk budi daya kopi,” tandas Budiar.

Secara terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Dra. Pantjaningsih Sri Redjeki, mengaku dalam beberapa tahun terakhir ini ada peningkatan ekspor kopi dari Kabupaten Malang. “Trendnya meningkat, tahun 2017 kemarin volume ekspor kopi kita 59.103.778 kg dengan nilai ekspor US$129.266.002,35. Tahun 2018 meningkat, volume ekspornya menjadi 66.291.778 kg dengan nilai US$ 131.113.756,83,”jelasnya.

Perempuan yang pernah menjabat Camat di tiga wilayah berbeda di Kabupaten Malang, ke depan berharap ekspor kopi dari Kabupaten Malang bisa meningkat secara signifikan. “Kopi masih merupakan produk unggulan yang masih mendominasi ekspor kita, kita ingin bisa meningkat, mengingat permintaan ekspor kita tinggi. Bahkan sekarang ini kita masih harus mengimpor kopi dari Timor Leste, untuk memenuhi kuota ekspor. Kita ingin kuota ekspor itu kita cukupi dengan produksi kopi kita sendiri,”asa Kadisperindag Kabupaten Malang.

Tersohornya kopi AMSTIRDAM dari Kabupaten Malang diaminkan oleh Thomas, Manajer Operasional. PT. Asal Jaya, salah satu eksportir kopi terbesar di Jawa Timur. “Kopi AMSTIRDAM adalah kopi unggulan ekspor kami, karena mutunya bagus bisa dengan mudah diolah menjadi grade 1 dan 2 serta cita rasanya digemari. Selain itu harganya juga relatif lebih murah jika dibanding dari daerah lain. Selama ini tujuan ekspor kita adalah Jepang, Italia, Georgia, Rusia, Armenia, Belgia dan Taiwan,”jelas Thomas.

Dengan keuntungan kondisi geografis yang dimiliki, sudah selayaknya jika Kabupaten Malang merebut kembali jatidirinya sebagai daerah penghasil kopi di nusantara dan dunia internasional. (diy)