TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Sejumlah dosen dan karyawan UMM menjalani vaksin COVID-19.

Dosen dan Karyawan UMM Divaksin

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Sejumlah dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalani vaksin COVID-19 pada 4 – 6 Maret 2021 di Universitas Muhammadiyah Malang Medical Centre.

 

Sejumlah dosen dan karyawan UMM menjalani vaksin COVID-19.

 

ZAKARIJA Achmat, S.Psi., M.Si., Kepala Bagian Kepegawaian UMM menjelaskan, sebenarnya pemegang otoritas program vaksinasi adalah pemerintah. Meski begitu, UMM mengajukan vaksin untuk dosen dan karyawan melalui Dinas Kesehatan Kota Malang. Ada sekitar 300 vaksin yang sudah diterima, 240 di antaranya telah digunakan pada tiga hari pertama pelaksanaan. “Mengingat hanya ada 300 vaksin, maka pimpinan universitas harus mengambil keputusan siapa yang didahulukan,” katanya, Selasa (09/03/2021).

Zakarija Achmat menjelaskan, pimpinan universitas didahulukan karena harus mengawal jalannya organisasi. Dilanjutkan pemberian vaksin kepada pimpinan fakultas serta para staf di bidang 1, 2, 3, dan 4.

“Di samping itu, para staf admin di lingkup fakultas juga didahulukan. Pasalnya, mereka juga memberikan pelayanan langsung kepada mahasiswa. Insyaallah akan ada 300 vaksin lagi dalam beberapa hari ke depan. Peruntukannya bagi sekretaris prodi, kepala laboratorium, dosen senior,  dan satpam,” ungkapnya.

Senada dengan Zakarija,  Ketua Satgas COVID-19 UMM, dr. Thontowi Djauhari, NS., M.Kes., mengatakan, UMM berinisiatif mengajukan program vaksinasi yang dilakukan dua tahap. Jarak antara kedua tahap tersebut sekitar 14 sampai dengan 15 hari. “Sampai saat ini kita belum menemukan efek samping yang  berbahaya. Beberapa merasa mengantuk dan lapar. Ada juga yang mengeluh pusing,” katanya.

Thontowi Djauhari  yang juga menjadi dokter Rumah Sakit (RS) UMM ini menyebutkan kendala yang dihadapi. Salah satunya,  kurang akuratnya informasi yang diperoleh masyarakat, sehingga banyak asumsi  yang salah terkait vaksinasi. Ia juga berharap agar vaksinasi yang dilakukan dapat memimalisir penularan COVID-19.

Sementara itu, Dr. Hj. Nurul Zuriah, M.Si, Kepala Divisi Penelitian DPPM UMM membagikan pengalamannya saat menerima vaksin. Awalnya, para peserta harus melalui proses screening sebelum dilakukan vaksinasi. “Kami ditanya terkait penyakit komorbid, apakah pernah asma, jantung atau bahkan paru-paru. Tentu saja saya berharap vaksinasi ini bisa meningkatkan kinerja karena membuat kami merasa aman dan nyaman. Mduah-mudahan penademi bisa segera berlalu,” harapnya.

Hal serupa  disampaikan Dimas Prasetyo, S.Pd., staf Internastional Relation Office (IRO). Ia mengatakan, rasanya tidak jauh berbeda dengan suntikan biasa. Ia juga menganggap bahwa vaksinasi ini adalah bentuk ikhtiar untuk terus menjaga kesehatan. “Mungkin nanti setelah 14 hari, kami akan menerima tahap vaksinasi yang kedua,” pungkasnya. (div/mat)