Dosen ITS Analisis Material APD Hazmat Yang Tepat

SURABAYA, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Sejumlah dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, menganalisis material baju hazmat yang sesuai standar, menyusul banyaknya pengusaha tekstil berinisiatif membuat baju hazmat, akibat terbatasnya stok alat pelindung diri (APD) berupa baju hazardous materials (hazmat) untuk menangani pasien COVID-19.

 

 

Contoh baju hazmat.

PARA dosen tersebut, Dr. Eng Hosta Ardhyananta, ST, MSc (Ketua Tim), Dr. Widyastuti, SSi,  MSi, Azzah Dyah Pramata, ST, MT, MEng, PhD, dan Diah Susanti, ST, MT, PhD. Keempatnya merupakan dosen Departemen Teknik Material ITS yang  tergabung dalam sebuah tim. Mereka menganalisis persyaratan material yang harus dipenuhi baju hazmat.

Dr. Widyastuti, SSi, MSi, salah satu anggota tim menyebutkan, terdapat beberapa standar yang digunakan dalam pembuatan APD hazmat. Di antaranya, standar dari World Health Organization (WHO) maupun standar Uni Eropa (EU). Menurutnya, baju hazmat harus mencantumkan kemampuan menapis hazmat, jenis material, batasan, masa berlaku, ukuran, kompatibilitas,  dan informasi penting lainnya.

“Pakaian sehari-hari saja harus mencantumkan jenis bahan dan cara pencucian, apalagi baju pelindung hazmat,  sudah seharusnya juga mencantumkan itu semua,” kata Dr. Widyastuti, Senin (01/06/2020).

Dosen yang kerap disapa Widya ini mengatakan, material APD hazmat umumnya tergantung dengan jenis hazmat yang ditapis. Di antaranya,  polipropilena (PP) dalam bentuk serat mikro maupun serat polietilena (PE) sebagai pelindung terhadap partikulat kering atau basah. APD hazmat terkadang juga menggunakan lapisan polietilena atau polipropilen sebagai pelindung dan penghalang fluida.

Khusus untuk penanganan COVID-19, material baju hazmat yang digunakan oleh tenaga medis harus lolos uji resistensi terhadap penetrasi darah dan cairan tubuh. Widya menyampaikan, material APD dapat dibedakan menjadi sekali pakai (disposable) dan dapat dicuci ulang (reusable). Biasanya tertera keterangan dapat atau tidaknya APD ini dicuci. “Apabila keterangan menunjukkan tidak dapat dicuci ulang, maka APD harus dibuang setelah dipakai,” tambah Widya.

Widya juga menjelaskan, APD yang dapat dicuci ulang menggunakan material serat polimer plastik woven fabric dengan serat yang berukuran besar. Sedangkan APD sekali pakai, menggunakan material serat polimer plastik nonwoven fabric dengan serat yang berukuran kecil.

“Kenyamanan juga menjadi hal penting dalam pembuatan APD hazmat. Kenyamanan ini dapat diukur dengan laju transmisi uap air atau yang dikenal dengan Moisture Vapor Transmission Rate (MVTR). Secara sederhana, nilai MVTR diartikan sebagai kemampuan untuk melewatkan udara. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi nilai MTVR,  mulai dari jenis bahan hingga pola tenunan kain ,” katanya.

“Semakin tinggi nilai MTVR, semakin tinggi pula kemampuan material untuk bernafas,” tandasnya.

Ditambahkan Widya, berdasarkan arahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), APD di Indonesia dapat dikembangkan dari bahan alternatif berbasis polyurethane dan polyester. Bahan ini telah direkomendasikan oleh American Chemical Society (ACS).

“ACS menyatakan bahwa kombinasi kain dengan polyester dengan ukuran yang pas di badan dapat menahan 80 hingga 90 persen partikulat aerosol yang berukuran hingga 10 nanometer. Material polyester ini aman dan tidak berpotensial untuk menyebabkan iritasi pada kulit, mata,  dan pernafasan,” ujarnya.

Widya berharap,  dengan memperhatikan standar yang benar dalam pembuatan APD hazmat,  dapat melindungi para tenaga medis saat bertugas. “Kita harus selalu mencegah penyebaran COVID-19, menjaga kesehatan, dan senantiasa berdoa agar pandemi ini segera berakhir,” harapnya. (ang/mat)