Dinas Pengairan Ciptakan Pintu Air Anti Maling

Ciptakan Pintu Air Anti Maling.

Saat membuka Rapat Koordinasi Inovasi Pelayanan Publik di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang, Jawa Timur 2016, di Pendopo Agung, Selasa (24/04/2016), Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna menegaskan, akan terus berkomitmen berinovasi dalam pelayanan publik, dengan mengedepankan One Agency, One Innovation (Satu SKPD, Satu Inovasi). Penegasan bupati ini langsung disambut Dinas Pengairan dengan berbagai inovasi. Salah satunya membuat pintu air anti maling yang dibuat dari beton.

Kepala Dinas Pengairan Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat melalui Kepala Bidang Pembangunan Aris Suprianto menjelaskan, selama ini, pihaknya menggunakan pintu air skep —biasa disebut pintu skep— yang terbuat dari plat besi. Namun pintu air skep ini sering dicuri orang, mengingat bahannya terbuat dari besi yang tebal dan besar. Harga jualnya pun tinggi, apalagi di tingkat rombengan (barang besi bekas).
Menurut catatan Dinas Pengairan, dari jumlah pintu air sebanyak 894 buah se Kabupaten Malang, sekitar 10 % – 12 % hilang dicuri orang, dan 31 % rusak. Akibatnya, tingkat kehilangan air tinggi. Selain itu, jumlah air yang dibutuhkan sawah tak bisa dikendalikan sehingga terjadi pemborosan. “Dan, pada waktu terjadi banjir, sedimentasi yang terbawa tak bisa dihindari karena pintu air tak bisa ditutup,” kata Aris Suprianto, belum lama ini.
Melihat fakta yang cukup memprihatinkan tersebut, akhirnya Dinas Pengairan membuat inovasi. Setelah melakukan penelitian dan uji coba, akhirnya ditemukanlah pintu air beton. “Jadi, mulai tahun 2016 ini, kami menggunakan pintu air beton yang lebih efesien. Dengan adanya inovasi pintu air ini, pelayanan dapat lebih maksimal, karena jika terjadi kerusakan, perbaikannya sangat mudah dan murah. Selain itu biaya pembuatannya pun murah dibandingkan pintu air skep,” jelasnya.
Aris Suprianto menjelaskan, biaya pembuatan pintu air skep ukuran standart cukup mahal, antara Rp 2 juta – Rp 3 juta per buah. Tapi dengan inovasi pintu air cor, bisa menekan biaya Rp 1,5 juta – Rp 2,5 juta per buah, karena biaya pembuatannya hanya sekitar Rp 500 ribu per buah. “Coba, berapa besar biaya yang bisa kita hemat dengan inovasi ini. Padahal tiap tahun selalu ada perbaikan pintu air,” jelasnya.
Selain membuat terobosan pintu air anti maling, Dinas Pengairan juga menelorkan metode saluran irigasi menggunakan sitem downkie, yakni memanfaatkan sumber air yang terletak di bawah, lalu dinaikan dengan sistem downkie. Dalam hal ini air dipompa sampai ketinggian 10 – 15 meter, sehingga daerah-daerah area pertanian yang terletak di bawahnya dapat terairi.
Sistem ini sudah diujicoba di saluran irigasi Desa Banjarejo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang sejak 2015. Sistem ini sangat membantu petani, khususnya di musim kemarau.*