Dibully Teman Sekolah, Siswa SMP Dirawat di RS

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Salah siswa SMPN 16, Syahriel (13), siswa kelas 7D, warga Arjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur, diduga  menjadi korban bully (ancaman dari pihak yang lebih kuat kepada pihak yang lebih lemah) dari teman – temannya.

 

 

Kapolresta Malang Kota, Kombes Leonardus Simarmata membezuk Syahriel (13), siswa kelas 7D, warga Arjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur, diduga menjadi korban bully di rumah sakit.

AKIBATNYA, beberapa bagian tubuh korban, tampak membiru kehitam-hitaman dan lebam. Bahkan, hinggs saat ini, korban masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Lavalette, Kota Malang.

Kepala SMPN 16 Malang, Syamsul Arifin membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan, setelah memintai keterangan para siswa, diketahui peristiwa tersebut terjadi Rabu,  (15/01/2020) silam.

“Mereka mengiyakan, memang ada penginjakan serta pemukulan. Bahkan, saat korban sempat dibopong, ada beberapa temannya yang melepaskan bopongannya, sehingga korban terjatuh ke lantai di masjid,” terang Syamsul.

“Hari Senin (27/01/2020), baru ada kabar itu. Kami langsung meluncur ke RS Lavalette untuk memastikan,” tuturnya, saat ditemui di kantor Dinas Pendidikan Kota Malang, Jumat (31/01/2020) siang.

Setelah dari rumah sakit, baru diketahui kondisi Syahril yang lebam-lebam di sejumlah bagian tubuhnya.

Inilah gedung SMPN 16 Kota Malang, tempat korban bully sekolah sampai lebam.

Sahabat korban menjelaskan, jari korban yang lebam itu, berawal dari seringnya kejepit gasper ikat pinggang miliknya. “Jarinya itu sering kejepit ikat pinggang saat mau berangkat ke sekolah. Kemudian di sekolah, jarinya terinjak temannya,” terang sahabat korban.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra. Zubaidah, MM, serta Kepada Sekolah SMPN 16 Kota Malang, Syamsul Arifin.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra. Zubaidah, MM, menjelaskan, setelah kejadian tersebut, siswa yang bersangkutan sudah masuk sekolah. Namun, kemudian ijin tidak masuk karena sakit. “Setelah kejadian, hari berikutnya sudah masuk sekolah namun diperban. Bahkan sudah ikut Pramuka. Namun akhirnya ijin tidak masuk karena sedang dirawat di rumah sakit sampai saat ini,” terangnya.

Adakah permasalahan lain hingga mengakibatkan kondisi korban cukup parah? Zubaidah hanya menjawab akan  segera melihat kondisi korban. Dia juga  mendengar kabar, beberapa pihak telah melakukan mediasi. Untuk itu, ia akan mengecek kebenarannya. “Terkait masalah mediasi, saya belum mengetahui. Saya akan mengecek dulu. Kesimpulannya, ada kejadian tapi tidak kekerasan,” tegas Zubaidah. (ide/mat)