Dibina Dinas Perikanan, Mina Padi Sanankerto Melimpah

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Mempunyai sumber air pegunungan yang melimpah, menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dengan sistem mina padi yang dikembangkan, hasil panen ikan yang dilakukan Kamis (05/09/2018) pun melimpah.

 

Panen ikan nila sistem mina padi oleh Andeman Farm, kelompok petani ikan binaan Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Jawa Timur.

 

Kadis Perikanan Kabupaten Malang, Ir. Endang Retnowati.

MELIMPAHNYA debit air yang mempunyai mutu yang bagus, menjadikan Dinas Perikanan Kabupaten Malang, melirik Desa Sanankerto untuk dijadikan desa binaan, dengan mengembangkan budi daya ikan air tawar mina padi.

Ditemui usai panen ikan, Kepala Bidang Pengelolaan dan Pembudidayaan Ikan Dinas Perikanan Kabupaten  Malang, Sumbodo Kresno Yuwono, menerangkan, tidak semua daerah bisa diterapkan sistem mina padi untuk budidaya ikan air tawar.

“Sistem mina padi inikan sistem tumpang sari. Jadi membutuhkan aliran air yang bagus. Kami melihat Desa Sanankerto memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sistem itu,” terang Sumbodo.

Melihat potensi yang besar, Dinas Perikanan Kabupaten Malang yang dipimpin Ir. Endang Retnowati ini pun menggandeng komunitas Andeman Farm, paguyuban para petani ikan di Sanankerto yang sudah terlebih dahulu terbentuk. “Bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, kami menebar benih 30 ribu ikan nila pada bulan April 2018 lalu,” jelas Kresno.

Empat bulan kemudian, dalam panen pertama, didapatkan hasil 3,5 kwintal ikan segar. “Hasil ini terbilang cukup bagus, mengingat dari 30 benih yang ditebar, hampir 50% mati, sewaktu dalam proses budi daya,” papar Kresno.

Dia menambahkan,  selain faktor cuaca dengan adanya perubahan iklim,  dimana perbedaan suhu antara siang dan malam begitu ekstrim, banyaknya hama dari hewan liar menjadikan tingginya kematian benih ikan.

“Suhu dalam cuaca kemarin kan sangat tinggi perbedaan antara siang dan malam. Hal ini menyebabkan banyak ikan yang mati. Di samping itu,  hewan liar, seperti lingsang dan ular banyak yang memangsa ikan yang dibesarkan di sawah,” ungkapnya.

Selain mengembangkan budi daya nila, Dinas Perikanan juga memberikan bibit ikan hias jenis koi dan 2,7 ton pakan ikan.  “Untuk budi daya koi yang mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi, sudah diterapkan di Sanankerto, juga mengadopsi mina padi. Hasilnya,  sejauh ini cukup bagus,” ujar Kresno.

Tak hanya melakukan pendampingan dan pembinaan bagaimana cara budi daya ikan air tawar, Dinas Perikanan juga membantu pemasaran paska panen. “Tentu kita juga mencarikan pasar. Justru para petani kewalahan menerima permintaan pasar. Dengan sistem mina padi, kami harap, dalam panen selanjutnya, hasil produksi bisa naik secara signifikan,”harap Kresno.

Sementara itu, Ketua Andeman Farm, Sigit Pribadi mengaku sangat senang dengan pendampingan yang dilakukan Dinas Perikanan Kabupaten Malang. “Sebetulnya sejak 2011 Ademan Farm sudah ada. Namun kemudian vakum. Baru pada 2015 bangkit lagi, kemudian mendapat binaan dari Dinas Perikanan. Adanya pendampingan ini bisa menambah penghasilan anggota kami hingga Rp 800 ribu per bulan,” kata Sigit.

Beranggota 17 orang, Andeman Farm membudidayakan ikan segar dengan cara mina padi. “Keuntungannya, kami bisa panen padi dan ikan, serta mengurangi ongkos produksi menanam padi. Karena,  dengan mina padi, rumput liar yang biasa menjadi gulma, tumbuh tidak selebat di sawah pada umumnya. Artinya, tidak ada ongkos untuk matun (menyiangi padi di sawah),” beber Sigit.

Ke depan, Sigit dan anggota Andeman Farm lainnya berharap agar pihaknya bisa mengolah hasil panen ikan segarnya. “Inginnya seperti itu, biar ada nilai tambah jika dijadikan olahan,  seperti nuget ikan,” pungkasnya. (diy)