TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf.

Dede Yusuf : UTBK di UB Patut Dicontoh

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM – Seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, sepertinya patut dicontoh di tengah pandemi COVID-19. Sebab, para peserta seleksi tidak harus melakukan tes swab. Mereka hanya perlu melakukan tes suhu dan menjaga jarak, sesuai protokol kesehatan (prokes). Sebab, biaya swab antigen mahal bagi sebagian keluarga calon mahasiswa.

 

HAL INI disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, saat kunjungan ke Malang, kemarin. “Sistem seperti ini sangat baik. Semua kampus bisa mencontoh UB dalam menerapkan prokes. Bila masker yang dikenakan siswa tidak standar, akan diganti kampus dengan yang standar,” katanya.

Dede Yusuf menambahkan,  menurut  Wali Kota Malang, Sutiaji, para peserta seleksi datang ke sini rata-rata sudah berhari-hari. “Ke pasar dan mall saja tidak perlu swab antigen. Masa ini ujian yang menyangkut masa depan  harus di-swab. Uang Rp 250 ribu sebagai biaya swab cukup besar buat para siswa,” paparnya.

Politisi Partai Demokrat ini  mengaku pernah menegur  kementerian yang mengharuskan rapid test berbiaya mahal bagi calon mahasiswa. Akhirnya kementerian mengeluarkan edaran yang membolehkan swab dengan GeNose yang lebih murah. “Kalau sampai si calon mahasiswa terindikasi positif, kasihan. Ini kan menyangkut masa depan mereka. Apa yang dilakukan Wali Kota Malang dan UB bisa dijadikan contoh buat (universitas) yang lain. Kita berhati-hati saja dalam prokes,” terangnya.

Sebelumnya, Wali Kota Malang, Sutiaji memberi penjelasan tentang alasan ditiadakannya pemeriksaan swab bagi peserta seleksi masuk PTN. Salah satunya, memudahkan calon mahasiswa dari berbagai daerah yang sudah tinggal berhari-hari di Malang untuk ikut UTBK. “Bila di-swab dengan biaya mahal, lalu terdeteksi positif COVID-19, pasti para siswa kehilangan momen berharganya,” ujarnya.

Jadi, pemerintah dan otoritas kampus hanya mengukur suhu agar semua bisa mengikuti ujian. Bila bersuhu tinggi atau terdeksi COVID-19, cukup ditempatkan di ruang khusus dan mendapat pengawalan saat pulang. (div/mat)