Darah Kambing Dilempar ke Laut, Ombak Langsung Bergemuruh

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Budaya Labuhan Gunung Kombang kembali digelar secara meriah di Pantai Ngliyep, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur,  Jumat (23/11/2018). Ombak laut bergemuruh saat kulit, kepala dan darah kambing yang disembelih dilempar ke laut lepas.

 

 

Ombak menggulung saat peserta Labuhan Gunung Kombang di Pantai Ngliyep, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur melempar sesaji ke laut lepas.

 

Peserta Labuhan Gunung Kombang di Pantai Ngliyep, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur membawa sesaji ke Gunung Kombang.

BERBEDA dengan Labuhan Gunung Kombang sebelumnya, di acara yang sudah ke-109 ini, ada yang beda, yakni adanya peran serta pemerhati budaya dan festival Kothek Lesung.

Marendra Hengki Kurniawan, Camat Donomulyo

“Dalam Labuhan Gunung Kombang ke- 109 yang digelar pada tahun 2018 ini, ada Festival Kothek Lesung yang baru pertama kali diadakan. Ada juga bazar UMKM. Selain itu turut serta para pemerhati dan pelestari budaya,” terang Marendra Hengki Kurniawan, Camat Donomulyo.

Kesenian Reog ikut memeriahkan Labuhan Gunung Kombang di Pantai Ngliyep, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Sebagai ritual budaya, Labuhan Gunung Kombang tidak hanya diikuti oleh warga Donomulyo, namun juga oleh warga dari luar Malang, seperti Blitar dan Suku Tengger. “Labuhan Gunung Kombang ini  tidak hanya menjadi ritual adat budaya warga Donomulyo, namun juga warga luar Donomulyo, seperti Blitar dan Suku Tengger yang tergabung dalam kerabat labuh,”jelas Marendra.

Acara Labuhan Gunung Kombang prosesinya dimulai sejak Jumat dini hari, tepat tengah malam, para lelaki mulai memasak di rumah lumbung Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo.

Dalam prosesi memasak tersebut, para lelaki diharuskan berpuasa. Pukul 15.00 WIB, lima buah jolen kemudian dibawa ke Gunung Kombang, Pantai Ngliyep. Dengan dipimpin ketua adat,  acara larung atau labuhan, kulit, kepala dan darah kambing yang disembelih dilempar ke laut lepas.

Ombak yang semula tenang,  langsung bergemuruh,  membesar,  saat ritual Labuhan Gunung Kombang dimulai.

Sebagai budaya yang telah mengakar kuat bagi masyarakat Desa Kedungsalam, diikuti oleh ribuan warga, baik sebagai peserta maupun penonton. Hal ini tentunya merupakan potensi wisata budaya yang bisa bernilai jual tinggi, jika dikemas sedemikian rupa.

“Kami sadar dengan potensi itu. Karena itu kami berkerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, agar Labuhan Gunung Kombang ini bisa menjadi ikon Ngliyep. Kami tentunya ingin mengembalikan kejayaan Pantai Ngliyep yang dahulu menjadi primadona wisata di Kabupaten Malang,” ungkap Camat Donomulyo.

Sementara itu, Plt. Bupati Malang, Drs. HM. Sanusi yang turut hadir dalam acara Labuhan Gunung Kombang  menyatakan, acara adat budaya seperti labuhan ini harus dilestarikan. “Hal ini harus dilestarikan, karena bisa menjadi daya tarik wisata, dan dapat memberdayakan potensi masyarakat lokal,” tutur Sanusi.

Dia pun berharap, ke depan, semua desa yang ada di Kabupaten Malang mempunyai destinasi wisata. “Sektor pariwisata ke depan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan  multiple players effect- nya. Karena itu tiap desa harus mempunyai destinasi wisata,” pungkas Sanusi.  (diy)